Jumat, 15 Juni 2012

sebuah pohon, sebuah surat, sebuah buku, sebuah cincin, sebuah cinta


Untuk cintaku,
Untuk warnaku,
Untuk setiap ekspresiku,
Ai..




Lizzie.
Aku menghela lagi. Kakiku sejak tadi menuntunku berjalan, tidak, mungkin berlari. Mungkin aku ingin berlari dari kenyataan, fikirku. Beberapa detik lagi mungkin mukaku akan terasa panas menahan tangis. Jauh dalam lubuk hati, sebenarnya aku ingin menderu sekarang juga.
Aku malah berhenti di satu pohon yang tak begitu rimbun, namun batangnya kokoh dan besar. Aku putuskan tuk berlabuh di sini, memandang hamparan hijau tanpa batas.
“Dari tadi aku cari, kamu udah disini ternyata.” Tiba-tiba sebuah suara yang tak asing bagiku terdengar bersama angin yang membuai telingaku.
Pelan, aku mencari asal suara itu. seseorang telah duduk di sampingku dengan senyum mengembang. Dave, dengan rambutnya yang bergoyang-goyang terkena tiupan angin segar. Aromanya yang khas, aroma yang selalu mengingatkanku pada hari dimana dia nyatakan cintanya padaku, tercium samar. Aku mencoba membuang apa yang aku fikir, dengan sebuah senyuman, aku membalas tatapannya.
“Kamu udah lama di sini?” tanyanya lagi dengan lembut.
“Idak.” Kataku menggeleng. Menampilkan kelucuan, berharap aku segera benar-benar terlihat seperti biasanya. “Tadi gimana? Lancar?” tanyaku.
Sekarang barulah dia yang mulai menampakkan apa yang aku fikir sejak semalam. Matanya memandang kaki-kaki langit yang tak berujung, jauh. menerawang masa depan yang tak banyak kaitanya dengan masa lalu. Peluh dari dahinya menjelaskan ia sedang berfikir, semburat senja mewarnai mata coklatnya. “Alhamdulillah, Lancar. Tinggal berangkat.”
Satu..
Aku berhasil tersenyum.
Dua..
Angin itu berhenti, berbisik, bertingkah, mengusik.
Tiga..
Yang ku lihat, mata kami bertemu pandang. Namun binarnya mengalir dari celah-celahnya.
“Kamu nanti hati-hati ya, sampai di sana nanti, cepet hubungi orang tuamu, kasih tahu kabar kamu.” Pesanku. Aku menunduk memandang ujung-ujung baju yang ku kenakan. Semilir angin mulai membelai lagi. Beri aku kekuatan. “Jangan bikin khawatir, sini ke sana tuh jauh, jaga diri baik-ba..”
“sssttttt…..Iya….” Potong Dave cepat. “Ini udah ke dua puluh satu kalinya kamu bilang itu dalam seminggu ini, aku udah hafal malah.” Kelakar Dave dengan mata menyipit. Pandangannya teduh, menyusuri gundahku. “Lizzie ku yang jelek, aku pasti bisa jaga diri, kamu tenang aja, oke? Doain aku, supaya aku ga butuh waktu lama tuk jauh-jauh dari sini.” Katanya. “Dan jauh dari kamu.” Lanjut Dave, tangannya membelai kepalaku lembut.
“Ayo pulang!” teriakku bersemangat. “Kamu kan harus berkemas, jam berapa terbangnya?”
“Kamu masih pinter bohong di saat-saat gini ya.” Kata Dave menggeleng dengan tersenyum. Tangannya turun dari kepalaku, menahan badanku yang hendak berdiri. “Aku bisa lihat, kamu berusaha keras nahan ini kan?” tanyanya menunjuk dadaku yang sesak menahan isak.
Seketika aku menangis, air mata yang susah payah aku bendung, begitu saja tumpah, basahi pipiku dengan pelan. Dave menarik wajahku, menyuruhku memandang bola matanya dengan dekat. Jari-jarinya menyeka air mataku dengan penuh kelembutan. Sesaat, aku berhenti menangis. Dave menunggu pipiku benar-benar kering hingga akhirnya dia menarik tubuhku dan merengkuhnya pelan.
“Begini, jauh lebih baik kan?” tanyanya, berbisik di telingaku.
“Aku…” kataku terisak. “Aku takut Dave, aku..”
“Aku ngerti, diary kamu udah cerita lebih banyak kok.” Dave membuatku tertawa di dalam dekapannya. Yah, hanya diary itu yang ku harap temani dia pergi nanti. “Tepat tanggal dua agustus nanti, kamu berharap aku pulang kan? Ummm… siap boss!!”
Aku terkekeh, tertawa kering. “Kamu, kamu juga masih sempet aja minta di hajar pas mau pergi.” Kataku sambil menggelitik punggunya.
Dengan pelan, dia merapatkan dekapannya.
“Dua agustus, aku tunggu kamu di sini. Gimanapun, aku bakal tunggu kamu. Terserah dateng atau enggak, aku pasti tunggu.” Aku menatapnya sejenak. Menatap rahangnya yang keras, mungkin dia juga berusaha terlihat kuat di mataku. Lalu aku membenamkan wajahku dalam-dalam ke dadanya.
“Sebisa mungkin, Aku akan datang. Walau bentar, aku usahain.” Janjinya mencium ujung-ujung kepalaku.
“Hehehe.”
“Kenapa?”
“Enggak, aneh aja. Belum pergi, aku udah nuntut banyak. Hahaha.” Aku melepas dekapanku, Dave membiarkan aku bersandar di pundaknya.
“Nah, tuh nyadar.” Sambungnya. Aku menatapnya tajam, memperlihatkan wajah yang aku biasa pakai saat aku bertingkah kesal padanya. “Hehehehe, endak…endak.” Katanya berlagak ampun.
Kami tergelak untuk beberapa saat. Mengingat bulan-bulan yang telah kami lewati bersama. Tak banyak kenangan yang dibilang manis, namun semuanya mampu buat rasa ini melambung. Kasihnya, begitu terasa saat menahanku tuk tak pergi, cintanya yang mampu benamkan rapuhku, tegarkanku, ajarkanku tuk selalu jadi semakin baik. Dan sekarang, dalam hitungan jam, dia akan pergi. Mungkin dalam waktu yang lama.
“Aku boleh tanya?” aku duduk tegap di sisinya. Menuggu Dave katakan iya. Dave menatapku lewat ekor matanya yang kecil. Lalu dia mengangguk pelan. “Apa buktinya kamu enggak akan ngilang dari hidupku?”
Satu..
Dave memandangku seksama.
Dua..
Dave menyusuri pipiku dengan jari-jarinya.
“hemmmm….” Mata kami masih saling menatap. “Denger ya, aku enggak akan menghilang Jelek, aku hanya pergi sebentar. Aku udah titip hatiku ke kamu, jadi..” Dave berhenti. Mendekatkan wajahnya. “Aku pasti kembali.” Dengan lembut Dave menarikku, mengucupku dengan sejuta rasa cinta yang mampu lumpuhkan takutku.

“Tok…tok…tok!”
“Iya, bentar…!” Teriakku. Aku berjalan cepat ke arah pintu dan langsung menyambar gagang pintu. “Apa?” tanyaku saat aku sadar ternyata Ibuku sudah lama mengetuk pintu. Aku melepas earphone dan memasang senyum ‘maaf’.
“mentang-mentang libur, kamu enggak mandi. Mana ada cewek kaya kamu gini.” Ibuku menggeleng tak percaya.
“Ah, mandi ga mandi, aku tetep wangi kok.” Protesku tak terima.
“Oke, sekarang kamu pilih mandi atau ketemu ayah kamu dengan keadaan cemong gini?” desak ibu menelengkan kepalanya. Itu salah satu caranya menggertakku.
“Ayah?” ulangku.
“Sebentar lagi dia nyampe ke bandara.” Lanjut Ibu menunjuk ke arah jam dinding di kamarku. Aku mengernyit. Masih bingung apa yang ia maksud. “Ya ampun Ziiiiii….” Ini kedua kalinya Ibu menggeleng. “Ini kan hari ulang tahun kamuuuuu, tujuh belas…”
Dan aku mulai bergidik. Ayah akan datang. Aku tak minta, tapi aku juga tak keberatan. Dia toh hanya beberapa jam saja di sini. “Dua agustus Mah? Ini dua Agustus?”
“Iya Sayangku Cintaku.” Dan kali ini Ibu memasang wajah yang mengejutkan. Tiba-tiba Ibu memelukku dan menciumku bertubi-tubi. “Cieeee, yang nanti ketemu sang pujaan!”
“Bener!!” aku meloncat. Betapa tak ku sangka, dia akan pulang. Aku mencium ibuku dengan girang. “Oke, aku mau mandi dulu deh!”
—o0o—
Ayahku makin terlihat tua. Dengan jas hitam dan kemeja putihnya, aku menganggapnya terlalu kaku. Walau kami sering bicara di pesawat telepon, kami masih tak terlalu dapat akrab layaknya semasa kecil. Di rambutnya, aku menyadari ada uban yang mulai tumbuh di sela-selanya dengan jarang. Aku melihat matanya begitu serius melihat keadaan rumah kami, rumahku dan Ibu.
“Ayah cuma bisa sebentar, tapi seengggaknya Ayah bersyukur bisa ketemu sama putri Ayah di hari ulang tahunnya, yang ketujuh belas lagi.” Katanya saat aku duduk di sampingnya.
“Makasih Yah, Ayah udah mau dateng jauh-jauh ke sini, tanpa diminta.” Kataku. Ingat berapa bulan lalu, saat aku wisuda, Ayah datang bersama Ibu, mereka terlihat kaku saat itu. masih punya rasa benci. Aku memeluk Ayahku dan segera mencium tangannya. Begitu pilu karena seakan aku punya batas yang jelas dengan orang tuaku sendiri.
Ibu memanggil kami untuk makan, entah kata apa yang cocok dengan ini. karena ini masih jam setengah sepuluh pagi. Ibu masak banyak, tak ketinggalan kue tart dengan coklat yang menggelitik mataku. Andai Dave datang saat ini juga.
“Kamu masih nunggu panggilan interview?” tanya Ayah saat kami menikmati makanan. Ibuku melirikku dengan ragu. Sepertinya ada yang di sembunyikan.
“Begitulah.” Selorohku tanpa melihat Ayah.
“Kenapa kamu engga..” Ayahku duduk tegap di kursinya.
“gini Zi,” potong Ibu. “Mamah fikir, kamu kan ngelamar kerjanya udah lama, tapi belum ada interview, mungkin mereka belum bisa nerima kamu.”
Aku sekarang berhenti mengunyah. Tenggorokanku serak. “terus?” tanyaku resah.
“Ayah mau kamu bergabung dengan perusahaan Ayah, maksud Ayah, bekerja di sana.”
Hening.
Ibuku terlihat takut melihatku, mungkin dia tahu aku akan meledak marah. Aku sekarang menatap ayahku dengan serius, mencoba menerawang niatnya yang mungkin tak tulus.
“kamu mau kan?” tanya Ayah.
“kalau menurut Mamah, enggak ada salahnya kamu coba. Kan kamu nanti sendiri yang jalanin, Mamah janji, kalau ada panggilan interview, Mamah akan hubungi kamu.” Kata Ibu sembari tersenyum.
Aku belum bisa mengelak. Ada benarnya kata ibu, fikirku. aku hanya menghabiskan hari-hariku untuk menulis di majalah dan hanya mendapat imbalan yang hanya bisa penuhi kebutuhanku sesaat. Lalu, dengan mengajar anak-anak, aku hanya bisa sedikit membantu Ibu. Aku dan sahabat-sahabatku sebenarnya telah punya planning untuk membuat usaha sejenis bakery. Namun belum bisa berjalan karena tempat yang kami incar masih terikat kontrak.
“Lizz?”
“aku nanti fikirkan lagi.” Jawabku singkat. “aku pasti kasih tahu Ayah kalau aku tertarik.”
Ayah dan Ibu saling berpandangan. Kami melanjutkan acara makan-makan dengan canggung. Fikiranku melayang-layang. Tapi sebaiknya, aku tanyakan pada Dave nanti.
—o0o—
Masih dengan perasaan berdebar. Aku memarkir motorku tepat di samping pohon yang waktu itu kami janjikan tuk bertemu. Sembari melihat sekeliling, aku membentang selendang pantai untuk alas duduk. Yah, aku gugup. Baru berapa bulan kami tak bertemu, tapi aku terlalu merindunya. Dan senja ini, mengingatkanku pada beberapa bulan lalu. Saat dia pergi dengan sebuah kecupan yang tak dapat ku lupakan. Di senja itu, terlalu melambung rasanya cinta untukku. Dia membuat senja itu semakin hangat.
Aku dapat melihat burung-burung terbang pulang ke sangkarnya. Jingga yang membentang di langit di hadapanku, mengundangku untuk tersenyum lemah. Dave belum juga datang. Apa dia lupa? Oh tidak, aku tak boleh putus asa. Dave pasti datang, aku yakin.
Hampir satu jam, aku menyadari senja hendak menghilang. Aku melirik arloji di tangan kiriku dengan cemas. Setengah enam. Mulai putus asa, tapi desiran angin membangkitkan kepercayaanku. Dave pasti datang. Yah, pasti.
Aku memutuskan menunggu sepuluh menit lagi.
Sepuluh menit pun berlalu.
Mungkinkah dia datang, fikirku. tiba-tiba ponselku berdering. Ternyata ibuku. “Halo Mah? Kenapa?”
“Pulang Zi, udah magrib.” Kata Ibuku singkat. Aku sedikit heran, ada yang aneh dari caranya bicara. Namun, aku tak menggubrisnya.
“Iya Mah.” Jawabku. Tak lama suara ‘tut tut tut’ terdengar, Ibu menutup teleponnya.
Dan dengan rasa sedih, aku pun pulang. Dalam perjalanan, aku masih berharap, Dave akan datang walau telat. Aku harus berfikir positif. Dave pasti datang.
“Kamu shalat dulu sana.” Kata Ibu saat aku duduk di sofa ruang tamu. Dia memasang wajah teduh namun terlihat terpaksa.
Tanpa fikir panjang, aku menurutinya. Mungkin fikiranku akan lebih tenang jika aku shalat. Semoga saja.
Wahai pemilik hati yang sesungguhnya,
Aku dapat ikhlas, namun berikanlah hambamu ini jalan yang terbaik.
“Zi, tadi pas kamu keluar, ada orang yang ngasih ini. Mamah enggak tahu kalau itu Ibunya Dave, tapi waktu dia bilang kalau Dave belum bisa pulang, Mamah langsung sadar itu ibunya nak Dave. Kita udah itu ngobrol sebentar, dia lumayan ramah ya.” Ibu mendekatiku yang baru selesai shalat. Lalu dia menyodorkan sebuah amplop dengan warna biru muda. Pastilah surat dari Dave, tebakku.
Aku begai ingin meronta, rasanya setiap kata Ibu barusan adalah jarum-jarum yang menusuk kepalaku. Dengan gemetar, aku mengambil surat dari tangan Ibu. Aku terlalu takut untuk berkata. Bayangan Dave mulai membuat mataku berair. “Terus?” tanyaku berat namun tetap bisa terdengar jelas.
“Dave mungkin lama disana, kata ibunya dia yang minta itu sendiri. Mungkin Dave akan ditempatkan disana Zi, dinas di sana.”
Butuh waktu lama untukku mencerna kata-kata Ibu. Sakit yang tak bisa ku gambarkan. Jadi, Dave bukan hanya tak datang? Bahkan dia tak pulang? Begitu? Begitukah janjinya dulu?
“Zii..” tegur Ibu dengan pelan. Aku tersenyum dengan segera, menahan setiap kenyataan yang terjadi. “Ibu ngerti perasaan kamu, tapi kamu enggak boleh down ya Sayang, mungkin Dave tahu yang terbaik. Sabar ya Nak.” Kata ibu mendekapku.
Aku mengangguk pelan. “Mah, aku boleh keluar bentar ya?”
“Kemana?”
“Diana.” Jawabku cepat. “Aku mau ngomongin rencana kita.”
“hemmmm..” Ibu terlihat berat. “Oke, tapi jangan malem-malem pulangnya.”
“Tenang…” senyumku getir.
—o0o—
Dingin.
Sedingin es.
Bukan udara di sekelilingku yang bergerak semu. Bukan angin yang menggoyang dedaunan di setiap dahan. Tetapi setiap bayangannya yang muncul dengan senyuman dan matanya yang melengkung menciptakan sebelah pedang sedingin es yang siap untuk menyayat setiap bagian dari diriku. Aku terlalu kelu, untuk membiarkan setiap apa yang ada di sekitarku mulai menghunusku. Rasanya begitu nyeri, karena hari ini datang pada saat yang salah.
“TINNNNNN!!!!!”
Tanpa sadar aku mulai melamun di jalan. Aku melihat sebuah pickup tua berhenti tepat di depanku. Mungkin Tuhan masih sayang padaku, batinku, karena dengan beruntung aku masih dapat berhenti mendadak.
“Enggak bisa lihat apa?! Mau mati jangan nyusahin orang!!” umpat seorang lelaki sekitar empat puluh tahunan turun dari pickup yang dikendarainya. “Dasar!” tambahnya menatapku tajam.
Aku segera menggeber motorku, pergi secepat-cepatnya. Aku tak mau ambil pusing, untuk apa aku melawannya. Ini salahku, jadi kali ini aku mengalah. Fikiranku kembali terpenuhi oleh masalah tadi. Tak mungkin aku melanjutkan perjalanan, terlalu berat. Terlalu bahaya.
“Mau pesan apa Mbak?” tanya sang pramusaji saat aku duduk di salah satu meja kafe.
“cappucino satu.” Jawabku singkat. Sang pramusaji terlihat ingin bertanya lagi, tapi aku segera memasang mimik dinginku. Aku tak mau banyak bicara, rupanya sang pramusaji mengerti dan langsung pergi setelah mencatat pesananku.
Aku ingin sekali membaca surat darinya. Dengan hati-hati aku mengambilnya dari kantung celanaku. Sudah terlipat dua, sedikit kusut bagai wajahku. Ku tarik nafas sebelum membaca kalimat pertama di dalamnya.
Untuk Kasihku, Lizziie...
Ini benar-benar darinya, aku ingat betul bagaimana tulisannya.
Happy birthday for you, and happy sweet seventeen ?
Aku minta maaf, karena hari ini, aku belum bisa tepatin janji aku. Maaf juga karena aku enggak bisa kasih kabar tentang aku. Aku tahu, malam ini kamu pasti kacau. Andai ada cara untuk menebus salahku, aku pasti lakukan itu. Berat untuk berfikir tentangmu, aku begitu remuk membayangkan keadaanmu sekarang. Jauh di sana, kau pasti tengah menunggu kedatanganku, namun kini yang kau dapati, jarak kita semakin panjang.
Sebenarnya aku bisa pulang, aku udah minta mati-matian dari sebulan yang lalu agar hari ini aku bisa libur tanpa syarat dan segera terbang ke sana untuk bertemu kamu. Membantumu meniup lilin-lilin di atas kue tart, menerima suapan pertama dari kue yang kamu potong, tersenyum di hari ini untukmu. Tapi, aku fikir, jika aku menemuimu, mungkin akan membuatmu merasakan sakit dan sedih untuk kedua kalinya. Karena tentu aku tak dapat lama di sana, dan pasti berat juga karena kita lagi-lagi saling melambai.
Jadi, mungkin lewat secarik surat bisu ini, aku juga ingin kamu tahu, aku di sini mungkin lama. Tidak, mungkin aku tak kembali selamanya. Karena, sepertinya jalan hidupku masih kabur dan belum dapat ku arahkan. Tapi, perasaanku bilang kalau karierku akan ku rajut di sini. Aku terlalu jahat jika membiarkanmu menunggu ketidakpastian, kepulanganku sekarang adalah kemustahilan yang tak terelakkan. Aku ingin, kamu mulai sekarang lupakan aku Zi. Lupakan semua manisnya bulan-bulan yang kita lewati sebelum kita akhirnya berpisah. Ingatlah, ingat setiap kekesalanmu sama aku, ingat waktu aku tak bersikap lembut, ingatlah luka-luka itu. Lalu, dengan mudah, kamu akan lupakan aku.
Aku minta maaf Zi, mungkin aku adalah pengecut besar mulai hari ini bagimu. Tak apa, anggaplah begitu. Sekali lagi, selamat ulang tahun Zi, semoga di tujuhbelas tahunmu ini, kedewasaanmu bertambah seiring kau melupakanku.
Dengan rasa menyesal,
Dengan bintang yang bersinar di atasku,
Dave.
“Mbak?” pramusaji itu melihatku dengan heran. “Ini cappucinonya.”
“ehm?” ulangku bingung. “oh...makasih.”
Aku melihat asap mengepul di atas cangkir di depanku ini. Sungguh, aku tak dapat mengubah tanganku yang masih mencengkeram kertas kaku di tangan kiriku ini. Setiap kata-katanya begitu indah, dia sampaikan luka lewat keelokkan kata-kata. Aku bahkan tak menangis, demi Tuhan.
Cepat, aku memasukkan surat ke dalam amplopnya lagi. Aku memasukkannya lagi ke dalam saku celanaku. Aku begitu kaku, sulit untuk membedakan tangan kanan dan kiriku. Aku hampir saja menumpahkan kopi panasku ini.
Tidak, ini hanya halusinasi. Aku terlalu sering berkhayal.
—o0o—
“Mah...buka pintunya....” erangku. “Mah....!”
“Ya ampun Ziiiii!” pekik ibu setelah melihatku. “Kenapa bisa basah kuyup gini?? Cepet masuk, ganti baju, udah itu cerita sama mamah!”
Aku segera melesat ke kamar dan mengganti semua pakaianku yang basah. Hujan tega sekali mengguyurku, dumelku. Selesai ganti, Ibu dengan raut wajah cemas langsung menghampiriku cepat.
“Kamu kenapa enggak tunggu hujannya reda sih?”
“Aku enggak enak, udah malem, mau nginep juga enggak enak.” Kataku berbohong. “Jadi, terpaksa aku hujan-hujanan.” Tambahku. aku ingat betul, para pengunjung kafe yang bertanya-tanya ketika melihatku—sendirian dengan satu cangkir cappucino—yang kacau.
“Hemmmhhhh...” gumam ibu. “Mamah tahu, pasti kamu ada apa-apa. Sekarang, ayo cerita ke Mamah.” Bujuk ibu.
Aku terseyum getir. “Besok aja ya? Aku ngantuk banget Mah, oke oke?” elakku. Tak mungkin aku bisa mengarang kebohongan panjang malam ini.
“Zi...Zi...” Ibuku menggeleng. “Ya deh, Mamah ngalah. Tapi besok kamu harus cerita, janji?”
“Beres...” timbalku. Ibu pun pergi.
Aku menarik selimutku, memastikan ibu benar-benar menutup pintu kamarku. Aku mulai teringat kata-kata dalam surat itu. Pedih dan begitu menyayat setiap aku mencoba memahami maksud dari kalimatnya. Begitu sakit mengetahui intinya kalau dia ingin aku membuat jarak panjang ini putus. Air mataku tak dapat lagi ku bendung. Terlalu lelah aku berdusta pada hatiku sendiri, aku akhirnya menangis, aku kalah dengan egoku tuk terlihat tegar dan kuat. Mataku terhenti di pakaian-pakaian di dalam lemariku yang terbuka sedikit.
Dia buat jarak, dia tambah jaraknya, dia potong jaraknya, buat semuanya jadi jurang yang tak dapat di seberangi.

“Kamu enggak salah Zi? Enggak akan nyesel kan?” tanya ibu untuk kesekian kalinya.
“Enggak.” Jawabku pelan. Melipat tiket ke dalam dompetku.
“Mamah bener-bener enggak tahu ada apa sebenernya sama kamu Zi, dari semalem kamu aneh banget, eh enggak, dari kemaren magrib malah. Ini pasti ada hubungannya dengan Dave kan? Pasti ada hubungannya sama Dave yang enggak bisa pulang kemaren kan?” ibu masih tetap tak mau menyerah dengan pertanyaan bertubi-tubi.
“Mah, nanti kalau aku udah yakin buat cerita, pasti aku cerita. Nanti kalau anak-anak tanya aku kemana, bilang aku ke Palembang atau kemana. Jangan bilang aku ke Jakarta ya.” Kataku mengalihkan pembicaraan. Beberapa orang yang sepertinya menunggu pesawat terlihat berlalu lalang di hadapan kami.
“hemh...” dengus ibu sebal. “Kamu tuh, dikerasin salah, dilunakkin ngelunjak. Gini nih Mamah ngerasa enggak ada gunanya tauk.” Ujarnya berlagak kesal versi anak kecil. “Tapi, ya udahlah. Hemhhh, temen-temenmu paling enggak pernah ke rumah lagi nanti, bohong juga percuma jadinya.” Katanya mengeluh lagi. Aku hampir terkekeh. “Terus kalau Dave tanya?”
Lagi lagi aku harus menyembunyikan fakta. Aku tak mungkin mengatakan yang sebenarnya, bahwa aku dan dia sudah tak mungkin bertemu lagi, bahwa isi surat itu adalah permintaan maaf dan sekaligus permintaan tuk saling melupakan. Ibuku mengenalnya, jadi aku tak mungkin bercerita. Biarlah, biar ku bawa kenyataan ini terbang setinggi-tingginya. Aku terlalu cengeng, aku tahu betul pasti aku menangis jika menceritakan ini.
“Bengong lagi, bengong lagi. Jangan-jangan entar di pesawat bengong melulu, terus ketinggalan!”
“Hehehe.” Tawaku terdengar kering rasanya. “Mustahil lah Mah, buat apa pramugari di sana?”
“Nah, ketawa kan mendingan jadinya.” Ibuku tersenyum lebar, mungkin baru kali ini senyumnya membuatku berkata ‘wah lebarnya’. “Pramugarinya juga takut ngusir kamu dari pesawat, yang ada kamu pelototin sambil bilang ‘Woy! Gua ngerti kali, kagak usah Lo usir juga Gua bisa turun sendiri!’, ya kan?”
“Hahahahahahah ><!” dan seketika tawaku pecah. Membuat semua otot-otot punggukku lebih lentur dan rileks. “Mamah...Mamah...” kataku menggeleng-geleng. “Enggak lah.” Elakku.
“Hehehe.” Ibu terkekeh juga. “Nanti kamu kalo udah di sana, cepet telepon Ayah kamu, minta jemput aja. Jangan nekat, Jakarta beberapa tahun tanpa kamu banyak berubah lho.” Mata ibuku menyipit. Terlihat jelas kalau dia sedang berusaha menghiburku. Aku merasa kesal terhadap
“Siap boss!” kataku sambil memberi hormat ala tentara. Lalu tak lama, kami berpelukkan. Terimakasih Mah, batinku.
—o0o—
Ternyata di sini juga sedang musim hujan. Mang Nurdin dengan ramah membukakan pintu mobil untukku. Dia membuka bagasi dan mengeluarkan koperku. Aku memandangi rumah ayahku yang dominan dengan cat putih. Aku sedikit panik, aku takut tak dapat menyesuaikan dengan keluarga baru ini.
“Nah Neng, kenapa bengong? Ayo masuk, Ibu di dalem udah nungguin.” Kata Mang Nurdin.
Aku tersenyum dan mengikutinya. Ibu? Mungkin tante Hilda maksudnya, fikirku. Ayah masih belum bisa pulang saat ke telepon tadi di bandara, tetapi dia telah menyuruh Mang Nurdin menjemputku.
“Assalammualaikun, Bu.. Ini neng Lissi udah nyampe nih!” pekik mang Nurdin semangat.
Lissie? Berat mungkin baginya untuk menyebut ‘z’. Hahaha.
Ku tatap arlojiku, hampir jam satu siang. Tak lama seorang wanita—putih, rambut bergelombang panjang, dan dengan pakaian rapi—menghampiri kami di ruang tamu. Tante Hilda begitu terlihat muda di banding Ibuku. Mungkin karena ibu tak melakukan perawatan kulit dan wajah seperti dia.
“Hallo Lizzie sayang...” sambutnya begitu ramah. Suaranya kalem dan wajahnya teduh. Lantas dia memeluk dan mencium pipiku. Well, tetap saja dia ibu tiriku. “Mang, bawa tas sama kopernya ke atas ya? Kamar depan sana, paham?” katanya pada mang Nurdin.
Mang nurdin mengangguk dan pergi ke atas. Tante hilda membawaku ke ruang keluarga. Di sini lebih hangat, ada perapian kecil di dalamnya. Aku ditinggalnya sebentar, lalu dia kembali dengan minuman dan dua cangkir di tatakan.
“Kamu di sana udah kerja?” tanya tante Hilda sambil menuang teh. Rambutnya tergerai ke bawah. Aku menyambut cangkir yang dia berikan.
“Belum te.” Jawabku. Melihat bayanganku di dalam cangkir yang isinya bergejolak.
“Hemmm...” dia mengangguk-angguk faham. “Berarti besok udah siap dong ke kantor?” desaknya. “Ayah kamu pengen banget kamu kerja di tempatnya, kamu tahu enggak Zi, tiap malem pasti dia minta pendapat Tante tentang ini.”
“Tentang ini?” ulangku tak mengerti.
“Iya zi, Ayah kamu pengen kamu tuh kerja atau tinggal sama kita, tapi ayah kamu bingung gimana ngomongnya.” Tutur tantae hilda. “ayo di minum, mulai sekarang jangan sungkan-sungkan ya di rumah ini. Ini rumah kamu juga, ummm.. oh iya, Si Mila juga belum pulang. Dia sekarang masih kuliah semester empat.” Tak butuh waktu lama Tante Hilda untuk akrab denganku rupanya. Mila adalah anak Tante Hilda dan Ayahku, saudari tiriku tentunya.
“ummm..” aku hanya mengangguk. Menghirup teh hangat yang ada di tanganku. Rasanya aku mulai mengerti, mengapa Ayah dan Ibu berpisah, Ayah rupanya lebih cocok dengan orang yang lemah lembut tapi memimpin seperti Tante Hilda. Walau dia begitu baik dan ramah terhadapku, tetap saja dia adalah ibu tiri yang tulusnya masih ada batasnya.
“Kamu capek ya? Sekarang kamu istirahat aja deh.” Senyumnya lalu menuntunku naik ke lantai dua. Aku mengikutinya saja tanpa perlu bersikap protes. “Nah, ini kamar kamu. Kalau kamu enggak suka warnanya, besok kita ganti, ya?”
“Suka kok.” Jawabku langsung. Ku lihat warna temboknya hijau muda dengan sentuhan putih di kusen-kusen pintu dan jendelanya. Gordennya berwarna putih hampir transparan. Aku bisa melihat matahari setiap paginya nanti, tak begitu buruk.
Tante Hilda tertegun. Mungkin dia fikir aku ini seperti Mila. Yang suka pilih-pilih dan minta dituruti kemauannya, semuanya harus sesuai dengan kemauannya intinya. Aku masih ingat, saat aku liburan semester dua kelas satu dulu. Aku di ajak Ayahku liburan bersama keluarga ini, dan betapa kesalnya aku ketika mengerti Mila yang lebih tua dari aku, malah bersikap bagai anak SD. Bagaimana bisa, waktu di taman hiburan dia minta ini itu sambil merengek-rengek. “Umm..gitu ya. Syukurlah kalau gitu. Ya udah, tante tinggal turun dulu ya.” Katanya pergi.
Sungguh, ini adalah pelarian yang tak dapat aku halangi, aku hanya mencoba membiarkan penatku, sakitku, menyeruak dan mengendalikan fikiranku.
—o0o—
“Pagi..” sapa seorang perempuan saat aku melintasi meja kerjanya. Ternyata dia sekretaris Ayah.
“Pagi...” sapaku balik. Dia tersenyum pada kami.
Aku dan Ayah masuk ke dalam ruang kerjanya. Cukup luas untuk seorang lelaki paruh baya. Ayah menyuruhku duduk dan santai. Dia mengangkat gagang telepon dan sepertinya mulai bicara dengan seseorang.
“Kamu ke ruangan saya ya...” kata ayah pelan.
Ayah lantas menutup telepon dan memandang ke arahku. “hari ini, kamu lihat-lihat aja dulu. Kamu kenalan sama orang-orangnya dan tanya-tanya sama orang-orang yang kerja di sini biar lebih faham.”
“Iya yah.” Anggukku, lagi pula aku masih belum memakai baju ‘formal’ dan ‘rok’.
Seorang lelaki megetuk pintu yang telah terbuka. Rambutnya tertata rapi, dengan kemeja abu-abu putih dan dasi abu-abu. Umurnya sekitar dua puluhan mungkin. “Ada apa Pak?” tanyanya mendekati meja ayah.
“Ini anak saya, Lizzie.” Kata ayah pada lelaki yang sedang berdiri di sisi kiriku.
Lelaki itu tersenyum dan langsung menjabat tanganku. “Oh, senang bertemu denganmu. Kenalkan aku Gabriel.”
“Lizzie.” Jawabku sembari tersenyum.
“Seperti yang pernah saya ceritakan, saya mau kamu jadi guidenya dia.” Tutur ayah dengan gagah. “Hari ini, tolong kamu ajak anak saya lihat-lihat dan menjelaskan hal-hal tentang perusahaan ini, kamu enggak keberatan kan?”
“Tentu saja tidak.” Senyum Gabriel makin mengembang. “Sekarang?” tanyanya melihat ke ayahku.
Ayahku mengangkat bahu dan menatapku. “Terserah kamu Zi.” Kata ayah padaku.
“Oke, sekarang aja.” Kataku.
—o0o—
Hanya satu jam, aku dan Geb telah mengelilingi seluruh isi kantor ini. Sikap Gabriel di depan ayah tadi dan di depanku sangat berbeda, di depan ayah dia terlihat sangat kaku, tapi di depanku dia lebih sebagai ‘anak muda’ biasa. Dengan bahasa yang ringan, dia menjelaskan tentang seluk beluk perusahaan ini. perusahaan ini bergerak di bidang advertisement, memproduksi iklan-iklan istilahnya. Sedangkan Geb, dia adalah kepala tim kreator. Saat kuliah dia telah menekuni bidang ini. dia telah bergabung dengan perusahaan ini selama dua tahun belakangan ini.
“Sejauh ini, kamu tertarik di bagian apa?” tanyanya tiba-tiba saat kami turun ke lobi. Kantor ini tak terlalu besar,karena ini hanya kantor periklanan.
“Entahlah, kalau menurut kamu aku cocok di mana?” tanyaku balik. Geb mengajakku duduk di salah satu bangku panjang.
“Hahahaha.” Geb tergelak. Tawanya begitu tak asing buatku. “Direktur!” semprotnya.
“Direktur?”
“Lagian, kamu aku tanya mau di mana, malah balik tanya.” Geb masih terkekeh. Oh ya tuhan, pantas saja aku merasa mengenalnya, caranya tertawa persis dengan Dave, membuatku sedikit nyeri. “Gini aja, kamu kan baru di sini, kamu coba-coba aja setiap bagian. Kamu mau gabung ke tim kreator?”
“Aku kan enggak punya imajinasi tinggi kaya kalian.” Kataku merendah.
“Kan hari pertama Zi, kamu Cuma lihat kita ngapain di sana.” Akhirnya Geb kembali serius. “Ayah kamu juga enggak akan keberatan kayanya.”
“Hummm...”gumamku. “Aku ngelamar jadi sekretaris kamu aja deh.”
“Eh?” Geb tertegun. “Ngelamar?”
“Hehehehe.” Aku tergelak juga. “Maksud aku, aku mau jadi sekretarismu, Pak Gabriel.”
“Geb aja udah cukup.” Kata Geb sedikit murung. Lalu seketika wajahnya ceria. “Hemmm, terserah kamu aja. Aku kan Cuma nurut.” Senyumnya.
Tak lama, kami akhirnya langsung akrab, tak lupa kami saling tukar nomor ponsel. Geb, setidaknya menjadi teman baru dan teman pertamaku.
—o0o—
Aku masih belum dapat melupakannya, bahkan setiap bagian darinya ada dan muncul di orang lain. Tanpa melihatnya, aku masih terus mengingatnya.
Satu minggu di Jakarta, satu minggu di kantor, tapi bayangan-bayangan itu masih muncul. Aku terus menerus menyibukkan diriku. Dengan rekan kerja baru, aku dapat pengalaman baru. Ibuku sepertinya sudah tak mengahawatirkan keadaanku lagi. Sekarang, dengan keluarga baru, lingkungan baru, aku seharusnya siap dengan kehidupan baru.
“gimana rasanya kerja di kantor bokap?” tanya Mila saat kami berdua sedang menikmati roti selai kacang di pagi hari di meja makan. “Enak?”
“Lumayan, orangnya baik-baik.” Tuturku. Aku mulai merasa kenyang, tapi dari tadi ayah belum juga turun. Senin pagi, harusnya aku bisa berangkat pagi. “Kenapa?”
“Enggak apa-apa.” Mila menggeleng. “Gue heran aja, lu kok masih muda udah nekat kerja, bukannya kuliah atau apa gitu. Kagak capek?”
“Capek? Enggak kok. Gue sebenernya dari sebelum lulus udah ancang-ancang buat terjun ke dunia kerja, jadi gue bersyukur, impian gue bisa tercapai.” Aku menenggak air putih yang berada dekat tangan kananku. “Lu nanti niatnya abis lulus ngapain?”
“Kerja juga sih pengennya, tapi gue bingung Zi.” Dengus Mila, sorot matanya layu.
Alisku terangkat. “Bingung apa?”
“Skripsi gue nih, ribet.” Akhirnya Mila menatapku dengan mata menyipit sedih. “lu bisa bantu gue kagak?”
Dan inilah mengapa aku tak mau kuliah. Skripsi harus selesai sebelum kita dinyatakan lulus, dan itu memakan waktu yang lama pastinya. Jika menurut mereka—dosen—skripsi kita belum selesai, ya kita harus mengulang. Kalian tak akan bisa menghirup udara bebas, kepala dan punggung seperti ada yang menindihi.
“Ziii?” panggil Mila membuyarkan lamunanku. “Mau kagak?”
“ummm…gue sebisa mungkin deh bantu lu. Lu fakultas apaan si?”
“Ekonomi.” Senyumnya mengembang. Bagai mengatakan ‘aku orang yang enggak pintar lho’ tapi dengan rasa bangga yang melejit.
“hemmmm…” gumamku. “Oke deh.” Kataku sedikit tertahan. Ekonomi? Semoga saja aku bisa benar-benar membantunya.
Tak lama ayah dan tante Hilda turun dan bergabung sarapan dengan kami. Seperti biasa, aku harus pura-pura mengunyah lagi untuk menunggu ayah. Aku setiap harinya pergi ke kantor dengan ayah, namun sangat terasa tersiksa karena ayah berangkat lebih siangan dari pegawai lainnya. Aku tak mau mereka beranggapan aku ini di-beda-kan.
“Mah, Pah, aku berangkat dulu ya.” Mila berdiri dan menyalami orang tua kami. Dia lalu menatapku dengan senyuman, yang entah mengapa seperti berkata ‘janji ya? Bantu gue’.
“Pulang nanti di jemput atau?” dengung tante Hilda.
Mila tersipu malu, mengerti maksud ibunya. “Di anter kayaknya.” Senyumnya.
“Hati-hati ya Mil, ingetin mang Nurdin kalau mulai ngebut.” Pesan ayah saat mila mencium tangannya. Well, ada rasa iri sedikit melihat slow motion adegan ini.
“beres…” sahut Mila setelah itu dan berlalu.
Sunyi. Sepertinya hanya Mila yang mampu membuat ‘suara’ di rumah ini.
—o0o—
Meeting pagi. Semuanya anggota tim kreator dan koordinasi berkumpul. Selama bekerja di bagian kreator, aku cenderung hanya diam dan sekadar membantu geb, tak lebih. Dan sekarang, aku dipaksa Geb untuk ikut meeting. Aku malu, bukan karena apa, tapi aku nanti hanya bisa diam, pura-pura menulis, tapi yang ku tulis adalah puisi-puisi dan cerpen.
Hampir setengah jam, tapi aku sama sekali tak mengerti apa yang mereka sedang bicarakan. Hanya kadang aku sesekali mendengar mereka mengatakan bungkus, mata, mulut, warna dan kata-kata yang sulit untuk di masukkan ke cerpenku. Dan sepuluh menit kemudian, aku merasa gelap melandaku, mengantuk di pagi hari, di ruang meeting.
“Kalau menurut kamu gimana Zi?” tiba-tiba suara dan suatu injakan membangunkanku. Aku langsung sadar, kalau Geb baru saja menginjak kakiku. Mataku merah pasti, orang-orang—ada sebelas orang termasuk aku—memandangku heran. “hemm?” desak Geb melihatku linglung.
Satu…
Aku menatap Geb dengan besar hati, berharap dia tak marah jika aku salah dengan tidurku ini.
Dua…
Geb masih menatapku.
Tiga…
Ponsel Geb tiba-tiba berdering. Nyaring.
Geb mengangkat teleponnya dan segera keluar. Memberiku sedikit kesempatan untuk berfikir dan tak memalukan. Jangan salahkan aku, gumamku. Hobiku menulis, bukan berimajinasi apalagi membuat iklan.
“tadi ngomongin apa sih?” tanyaku pada Sarah, tim kreator bagian desain.
“Kita dapet client perusahaan permen coklat udah dari minggu kemarin Zi, tapi masih terhambat karena sekarang tuh banyak banget iklan yang hampir sama, jadi kita mau share ide kita, dan kayaknya Geb masih enggak puas dengan ide-ide kita.” Jelas sarah sembari memainkan penanya.
Aku mulai mengerti. Jadi Geb mungkin sedang kesal karena dia dan timnya masih belum mendapatkan inspirasi. Aku melihat Geb membuka pintu dengan wajah kecewa. Dari raut mukanya, pasti itu telepon dari client.
“kenapa Geb?” tanya Dilon, ketua tim koordinasi. “Pak Arifin lagi?”
“Iya Lon, katanya minta dipercepat.” Jawab Geb suntuk. “oke guys, mungkin ada yang mau nyumbang ide lagi?” tanyanya tak berselera, seperti hendak menyerah.
“Ehhemmm…” aku berdeham. Mencari suara yang pas. “Gimana kalau ada seorang cowok cuek yang enggak pernah keliatan care sama ceweknya, si cewek sebenernya sedih tapi enggak berani bilang, suatu hari karena enggak tahan, si cewek nekat kabur dan lost contact sama si cowok sebagai bentuk protes, akhirnya si cowok minta maaf dan..”kataku terhenti, mengingat-ingat sesuatu. Orang-orang tanpa ku sadari memperhatikanku dengan sungguh-sungguh.
“ciuman?” seloroh Andi menebak tanpa sungkan.
“Hahahaha.” Aku terkekeh. “bukan, si cowok bilang, ‘aku bukan cuek, tapi karena malu dan enggak bisa nunjukin rasa peduli aku ke kamu’ terus cowoknya ngeluarin permen coklat dari sakunya, akhirnya si cewek luluh dah.” Tutupku.
Tak ada reaksi dari orang-orang setelah mendengar ideku. Hanya mata mereka tetap menatapku tanpa kedip, aku tak bisa membedakan apakah mereka ini jijik atau bagaimana tentang ideku.
“harus ada ciuman dong!” timpal Andi sambil tertawa, tentu dia hanya bercanda, membuat kesunyian di ruangan ini pecah. Aku dapat bernafas lega sekarang. “Keren kok! Ya kan Geb?”
Geb memandangku tanpa kata. Matanya benar-benar memandang mataku, tak bisa ku percaya karena jarak kami hanya beberapa inch. “aku bilang juga apa.” Kata Geb lirih. “harusnya aku tanya kamu dari mulai meeting ini.” tiba-tiba senyumnya mengembang bagai bulan sabit.
Aku tertegun masih belum mengerti maksud Geb. Tapi orang-orang berubah semangat bagai menerima keajaiban. Entak otakku yang lamban atau aku yang tak belum mengenal mereka terlalu dalam. Yang jelas aku masih melihat Geb dengan tanda tanya.
“Sarah, kamu yang atur ya?” kata Geb pada sarah. “An, lu yang cari seleb yang cocok, terus lu Ben, siapin tempatnya. Oke, meeting selesai!” pekik Geb semangat dan bangkit dari kursinya. “ayo ngopi sebentar.” Ajak Geb padaku.
“Iklannya?” tanyaku sedikit linglung.
“Hemm?” Geb terlihat bingung. Lalu dia menepuk jidatnya. “Ya ampun Lizzie? Kamu masih enggak ngerti juga? ide kamu tuh kita pake Ziiii…” Geb terlihat gemas. “dasar ABG, pikirannya masih ngeluyuran.” Ledeknya. “udah lah, sekarang kita hilangin stres aku dan kantuk kamu, kita ngopi di tempat yang pasti kamu suka.” Geb menenteng tanganku tung pergi. Aku hanya mengikutinya.
—o0o—
Sejak tadi Geb terus menerus menatapku. Aku tahu itu. aku hanya bisa mengalihkan pandanganku dengan pura-pura menulis. Saat Geb menarikku dan membawaku ke kafe ini, aku sengaja membawa buku yang ku pakai saat di ruang meeting tadi. Aku melanjutkan cerpenku tanpa memandang Geb.
“Hobi ya?” tanya Geb melihat ke buku yang ku tulis. “Kayaknya dari tadi pagi tekun amat.”
“ummm?” aku akhirnya bebas dari pandangannya yang mampu membuat telingaku merah. “iya gitu lah, suka aja, bisa dibilang hobi.” Kataku menutup pena yang ku pakai.
“jujur, tadi aku sempet terpukau tauk.”
“terpukau?” ulangku.
“iya, gimana enggak coba? Kamu bangun tidur, eh langsung ciptain ide bagus. Fresh lagi.” Puji Geb. “enggak salah pak Farhan punya perusahaan ini, kamu ngewarisin bakatnya ternyata.”
Aku tersudut dengan kata ‘pak Farhan’ barusan. Tak banyak yang aku banggakan menjadi anak ayah. “Enggak kok, itu Cuma pengalaman.” Ujarku yang ku rasa keceplosan. Alis kiri Geb terangkat. “ummm…lupain lupain.” Senyumku.
“pacar kamu dulu cuwek?” tanyanya dengan nada kasihan, bukan kasihan agaknya, tapi berdecak. Aku tak menjawab dan tak menggeleng, hanya memutar bola mataku yang artinya ‘entahlah’. “Pantesan…” Geb mengangguk-angguk.
Lagi-lagi Geb lah yang membuat aku ingat dia yang kini sakit jika ku sebut namanya. Aku ingin sekali merengek saat ini, membiarkan pramusaji itu menganggapku gila. Secangkir kopi hangat ini, persis dengan kopi terakhir yang ku hirup saat membaca surat bisu darinya di malam itu. aku gila, fikirku.
“Sekarang masih pacaran?”
Dan ini lah mengapa aku makin merasa gila. Aku terlalu kelu mendengar kata itu, terlalu penat, terlalu sakit. Segenap murkaku tumbuh, segenap lukaku mencuat bagai tali yang putus. Geb salah, harusnya dia tak tanya itu. aku masih ingin menutup diri, pertanyaannya terlalu jauh, terlalu pribadi.
“gimana kalau kita balik ke kantor? Aku rasa mungkin kita bantu tim buat nyelesain iklan job ini.” kataku mengalihkan perhatian. Suaraku hampir parau, menahan air mata kepedihan.
“aku bertugas ngecek hasil akhir nanti Zi, dan kamu tugasnya men-dam-pi-ngi aku. Jadi, jangan fikir aku tolol karena enggak ngerti kamu dari tadi ngehindar dari setiap ekspresi aku.” Tangan Geb meraih tanganku di atas meja.
Jantungku bak meloncat-loncat tak karuan. Membuat semua bulu di tengkukku bergetar. Geb membuatku kaku dan dingin. “maksud ka-kamu a-apa?”
“aku ngerasa kamu tuh terlalu nutup diri Zi, kita kan udah seminggu kerja bareng, enggak ada salahnya kamu cerita, enggak ada salahnya kamu memperkenalkan jati diri kamu yang sebenarnya. Dan aku rasa kamu harus mulai dari sekarang.”tuntut Geb tak melepas tanganku.
“Geb, please…” erangku. Aku mencoba menarik tanganku yang di pegangnya. Aku tak boleh menangis, ini tak boleh terkuak, tak boleh. “Geb!” dan detik itu juga aku menangis. Air mata yang ku tepis sejak di bandara minggu lalu, air mata yang harusnya tak menetes di sini, air mata yang harusnya sudah hilang, malah tumpah di depan orang baru dalam hidupku.
Geb dengan sapu tangannya mengusap air mataku pelan dan lembut. “Begini, jauh lebih baik kan?” tanyanya.
Kalimat itu, kalimat yang sama. Kalimat yang pernah ku dengar saat aku menahan rasa sedihku sebelum ditinggalnya. Geb, ada apa dengannya, aku pergi ke sini untuk melupakannya, tapi yang ku dapati sekarang, lelaki ini malah membuat setiap kenangan, setiap gerik, teringat ke dia. Dave.
“makasih.” Kataku datar. Merebut sapu tangan itu dan mengusap air mataku sendiri, kasar.
“aku ngerti, kamu pasti punya luka kan? Itu yang bikin kamu kesini kan?” Geb masih mendesak.
“ya!” pekikku. Tak mengerti mengapa aku bisa begitu terguncang.
Geb lalu terseyum. “Aku janji, aku akan bantu kamu sembuh Zi, aku janji.” Mata Geb berbinar-binar membuatku begitu ingin keluar dari cerita ini.
Kau yang tak pernah ku pinta, datang.
Kau yang ingin ku sapa, pergi.
Kau yang tak terlupa, hilang.
Kau yang tak ku ingat, hadir.
Di dirinya, bukan menjelma.
—o0o—
Sepulang kerja, tak seperti biasa, tim kreator sedang mengadakan pesta kecil-kecilan di rumah Andi. Dia membeli rumah baru untuk huniannya dengan istrinya yang baru dinikahi setengah tahun yang lalu. Acara yang biasa di lakukan jika ada kebahagiaan mendatangi tim kretaor, dan juga karena hari ini tepat dengan kesuksesan iklan permen coklat bulan kemarin, jadi Geb memutuskan merayakan semuanya sekaligus di sini. Andi sejak tadi sore mengajak kami ke seluruh sudut rumah barunya ini. unik, simple, dan cukup hangat.
Geb yang meminta izin ke ayahku untuk mengajakku bergabung dengan mereka, dan ayahku sama sekali tak keberatan rupanya. Aku merasa mulai mengantuk, penyakitku ini kambuh lagi. Aku memutuskan untuk tak ikut mereka menjelajahi isi rumah ini saat melihat sebuah kolam ikan. Airnya beriak, banyak ikan koi yang sangat lucu. Aku duduk dan memandangi mereka yang asyik berenang.
“bosen ya?” tanya Geb duduk di sebelahku dengan rasa bersalah. “pulang yuk?”
Aku mengerjap-ngerjap. “Enggak apa-apa?”
“tenang.. entar aku bisa tangani komentar-komentar mereka. Tunggu ya.” Katanya berdiri dan pergi ke andi dan yang lain. Tak lama terdengar kalimat ‘gue duluan ya, doain ya an!’
Dari sekian orang yang bekerja di kantor ayahku—adbrivet—hanya Geb yang memanggil Andi dengan kata ‘an’. Rata-rata semuanya memanggilnya Di (baca:ndi), termasuk aku. Di perjalanan sembari menyetir, Geb menceritakan kalau Andi adalah kawan SMP-nya dulu, mereka lalu beda SMA dan kembali satu kampus. Singkat cerita, Andi adalah sahabat baiknya yang bisa dibilang kocak. Aku memandang ke luar, melihat lampu-lampu jalan yang begitu gemerlap. Semakin lama mataku semakin berat.
“kamu udah bangun ternyata.”
Pelan aku menyadari kalau aku masih di dalam mobil Geb. Ku lihat langit yang begitu gelap. Tak ada cahaya sedikitpun kecuali lampu mobil yang sengaja dinyalakan oleh Geb. Geb masih berdiri sambil membuka pintu mobil, ku lihat dia hanya memakai kemejanya dan menyadari jaketnya telah menyelimutiku.
“kita?” gumamku parau.
“kita masih di jakarta.” Kelakar Geb. “pinggir laut tapi.” Senyumnya mengembang.
“la? Laut? Kita deket laut? Ini malem atau subuh? Kamu kok ajak aku kesini? Gimana kalau keluarga aku nyari? Gimana kalo…” cerocosku cemas. Aku mencari ponselku dan melihat jam, banyak pesan yang masuk dan panggilan yang terangkat. “Kamu angkat telpon dari ayahku?” tanyaku. Well, kalau Geb jahat, harusnya dia tak angkat telponnya.
“sekarang, kamu pake jaket itu, terus keluar. Setelah itu aku jelasin semuanya.” Kata Geb membuka pintu mobilnya lebih lebar untukku. Aku menuruti katanya, aku pasrah, tak tahu apa yang kan terjadi selanjutnya.
Geb menuntuku duduk di cap mobilnya, membiarkan sinar rembulan menyaksikan kami dari atas. Aku tak merasa takut lagi ketika melihat deburan ombak malam hanya berjarak beberapa meter dari kami. “tadi pas di mobil, kamu ngigau banyak, aku awalnya mau bangunin kamu.” Kata Geb memulai. Dia menarik nafas sejenak. “kamu bilang kata ‘Dave’ beberapa kali, setelah itu kamu bilang ‘aku belum lupa’ sambil terisak gitu. Ngelihat kamu gitu, aku enggak tahu kenapa, aku juga ikut ngerasa sedih.” Tuturnya.
Aku mengangguk-angguk, antara merasa ini masih bagian mimpi atau khayalan cerpenku. Masih menikmati fikiranku yang melayang-layang bersama ombak. Membiarkan Geb turun dari cap dan berdiri menghadapku. “Jadi disini, aku Gabriel, dengan setulus dan segenap rasa, aku mau kamu jadi pacarku Zi.”
Satu…
Pecahan itu kembali retak.
Dua…
Setiap air menghantam karam yang keras dan mencoba melunakannya.
Tiga…
Dan karangnya itu hatiku.
“Zi?” panggil Geb meraih kedua tanganku. Pandanganku kosong, tak ke masa lalu, tapi masa di mana aku merasa ingin dengan yang di masa lalu. “Aku fikir, satu bulan ini, kita juga udah banyak kenal, aku sekarang lagi sendiri, kamu dengan luka kamu pasti harus lepas, setelah ini kita rancang cara untuk saling mencintai, usia kita beda lima tahun, tapi hati, hati setiap orang perlu perlakuan sama, hanya cinta yang bisa ngerti. Dan..aku fikir..”
“ya.”
“yyaa??” ulang Geb dengan mata bulat tak percaya.
Aku yakin, aku lah yang mengiyakan barusan. Mata kami bertemu tuk sekian kalinya, rupanya Geb mencari kesungguhan dalam mataku. “aku fikir, ini saatnya. Jadi, ya. Aku siap melepas lukaku, aku siap jalani esok dengan kamu.”
Geb kali ini hilang kendali. “Makasih Di….makasih Tuhan…makasih Ziiii.” Geb hampir berteriak, membuat ombak merinding, lalu dia memelukku. Kaku. Aku hanya bisa kaku.


Dave.
Semilir angin pantai menerobos gorden-gorden ruangan ini. aku tak ingin menghiraukannya dan melanjutkan berkemas. Semuanya telah masuk ke koper dan tinggal beberapa buku dan kertas-kertas. Akte, surat, sertifikat dan sebuah diari bersampul biru yang kejang, kaku.
“masih belum selesai Kak?” Fani masuk ke kamarku dan duduk di tempat tidurku. “Bapak sama beli udah nanya.” Lalu dengan lugu, Fani berdiri di depanku dan membandingkan tingginya dengan diriku. Spontan aku langsung tertawa. “wah, lencana Dave lah penuh di dada.” Puji Fani bersungut-sungut menghitung lancanaku. “ada bintang, ada batang, wah..tinggi lah pangkat Dave pasti nih.” Puji Fani lagi-lagi.
Fani, kekasihku. Yang aku kenal dari tiga tahun yang lalu, yang ternyata anak atasanku. Yang mana menjadi sukarela, guru di sanggar tari Bali, terlahir dan bersekolah di sini, sekarang mengajar sambil menuggu wisuda S1-nya di fakultas sastra yang tinggal beberapa bulan lagi. Cerdas dan periang, yang tak ada hentinya membuatku semangat dan gigih. Dia dengan rambutnya yang panjang dan hitam, wajahnya yang elok apalagi saat menarikan tari cendrawasih, mampu membuat setiap kelabu dalam resahku terusik dan pergi. Dia membuatku jatuh cinta pada tahun yang sama saat aku mulai menapaki karierku. Dia menerima cintaku, tentu dengan rasa yang tulus.
Dua tahun terakhir ini, selama aku baru menjadi polisi, aku tinggal dengan keluarga Fani, ayahnya yang memintaku tuk tinggal di rumah mereka. Bali memang mempunyai cara pandang yang berbeda. Sebelumnya aku menyewa sebuah rumah, aku tak terlalu suka dengan kehidupan asrama. Dari situlah, hubungan kami semakin erat. Apalagi setelah ada niat pertunangan di antara kami. keluarga kami sudah saling kenal dan punya komunikasi yang cukup baik. Walau awalnya ibuku yang kurang mendukung rencana pertunangan ini karena dia mengenalnya. Lizzie. Tapi akhirnya, setelah ku jelaskan alasanku, dia akhirnya mengerti.
Aku hanya tersenyum lemah. “Fan, kamu tunggu bentar ya? Saya mau ganti pakaian.” Kataku dengan lembut, takut melukai. Fani pun mengerti, dia keluar dan menutup pintu kamar.
Belum seluruhnya aku dapat lupa, rasa bersalah ini terlalu menggangguku. Di dalam diari ini, banyak kisah yang mengikutsertakan aku, aku yang menjadi aktor malah. Tak mungkin aku bisa melupakan lawan mainku juga, Zi. Jika yang aku cintai sekarang adalah orang yang sengaja aku pilih karena sifat yang begitu mirip dengannya. Aku terlalu gegabah tuk memintanya melupakanku.
Mungkin, dengan mencintai Fani, aku dapat menebus rasa sesalku. Mungkin juga, kelak dia akan melakukan hal yang sama denganku. Aku membuka halaman terakhir diari di tanganku ini. Tepat tiga tahun silam, aku bisa merasa ada kekuatan tersendiri dalam tulisannya.
Dan kau yang utama walau tak pertama. Setiap kebisuan yang kau beri tetap tenteramkan sukmaku.
Hati ini tak ada habisnya memujamu, tapi kau tak beri. Kau yang ikatkan aku dengan segala kerinduan.
Jika esok kau kan biarkan aku merindumu, jika esok kau kan kepakkan sayapmu.
Pergilah sejauh kau ingin lampaui, terbanglah hingga tak kau rasa ada pijakan lagi.
Tapi saat aku mulai mencari. Berteriaklah, bergemuruhlah.
Pertemuan itu munculkan kau dan aku. Terikat kembali.
Aku hampir berteriak, merasakan sakitnya jika aku menjadi dia. Membaca kepergianku lewat surat yang tak bisa bicara. Menanti setiap detik untuk melamban agar aku datang. Memberikannya harapan yang harusnya bisa ku kabulkan. Aku langsung menutup diarinya, meletakkannya ke dalam kotak yang siap ku bawa pulang.
“Bapak titip Fani ya.” Kata Bapak—atasanku—menjabat lalu merangkulku. “kalian udah menhitung bulan.” Bisiknya sambil tertawa.
“Iya pak, percayakan sama saya.” Jawabku serius. Aku tak mungkin menelantarkan calon tunanganku sendiri. Ku lihat Fani telah menyandung tas jinjingnya. Koper kami telah di dalam mobil.
“Kalo mengantuk, berhenti saja.” Ujar ibu dengan logat Bali yang begitu kental. “cari penginapan, dan jangan lupa. Dua kamar.” Ledeknya bagai mengingatkan seorang anak kecil ‘jangan jajan sembarangan ya?’.
Kami tergelak beberapa saat. “Saya faham Bu.” Kataku sambil menahan tawa. “Ya sudah, kami berangkat dulu Pak, Bu.” Kataku akhirnya. Kami pun berangkat.
—o0o—
Tak banyak yang berubah. Kota ini jarang sekali terlihat asing, aku malah bagai baru kemarin sore meninggalkannya. Setelah mengurus segalanya tentang pindah tugasku, aku segera menyesuaikan diriku lagi. Membiarkan Fani juga menyeseuaikan dirinya dengan daerah barunya ini.
Dua minggu aku bertahan dengan kepura-puraan untuk tak punya rasa ingin tahu tentangnya. Dan hari ini, entah mengapa, sedanku melaju kencang ke arah rumahnya. Tak peduli bagaimana nanti, aku hanya mengemudi.
Rumah ini juga tak berubah. Hanya cat temboknya semakin tua, putih usang. Pagarnya masih tegar tuk melindungi isi rumah ini. aku berhenti di halaman rumahnya, menyiapkan diriku. Mungkin ini lah nekat. Sambil merapikan celanaku yang terlipat, aku berjalan dan langsung menuju ke pilar kanannya. Aku masih terlalu hafal bentuk rumah ini. aku masih ingat dimana bell yang biasa aku tekan setiap aku memberinya kejutan jika ke rumah ini.
Seorang wanita sekitar empat puluh tahunan membuka sedikit celah gerbang dan melihatku dengan saksama. Dia sepertinya tak ingat, mungkin. “Cari siapa ya?”
Bukan pertanyaan itu yang ku harapkan sekarang. “Ini aku Te.” Lirihku lemas. Begitu menyadari terlalu telat jika aku kembali mundur. “Dave.”
“D-Dave??” ibu Zi hampir histeris. Tak percaya sekaligus murka paling. “O-oh…” angguknya lalu membuka gerbang lebih lebar lagi. Dia menyuruhku masuk. Aku melihat jam dinding yang ku tebak, masih tetap tertengger disana. Masih jam empat sore. “Duduk dulu, Tante ke belakang sebentar.”
Aku mulai ragu. Ini lah yang berubah. Seingatku, saat aku ke rumah ini, orang itu akan bilang ‘sebentar, tante panggilin dulu Zi-nya’. Mungkin tidak, mungkin ingatanku tak setajam itu. aku mencoba mendengarkan dengan teliti, biasanya suara Lizzie kan melengking dari kamar lalu mengumpatku dengan lucu. Tapi tak ada, hanya ada dentingan pelan dari dapur. Yang ternyata Ibu Zi membawa dua cangkir teh untukk aku dan dia. Bukan Zi.
“Kamu udah lama di sini?” tanya Ibu Zi saat selesai meletakkan baki cangkir di dapur. “Kok enggak pernah denger kabarnya?”
“Saya dinas di Bali Bu.” Ku coba kembali ke masa itu, dimana Zi menyuruhku mengganti sebutan ‘tante’ untuk ibunya. “Baru minggu kemarin pulang, sekarang saya tugas disini.” Tuturku. Ibu Zi mengangguk pelan. “Zi-nya?” rasanya kaku tuk mengatakan itu secara langsung. “kemana?” apa dia masih belum pulang kerja.
“Zi, tiga tahun ini juga enggak di sini Dave.” Matanya menerawang masa lalu. “Tepat sehari setelah hari ulang tahunnya.”
Bagai terhunus pedang. Bagai dentuman peluru yang menembus dada. Aku kembali terhisap sakit, yang pasti dia lebih rasakan. “Ke?”
“Dia ke Jakarta, kerja di perusahaan ayahnya.” Jelas Ibu Zi singkat namun cukup membuat semuanya terungkap. Zi pergi, berlari dari setiap kenyataan. “Kamu ada perlu apa sekarang?” tanyanya tiba-tiba.
“Saya Cuma mau tahu keaadaan dia Bu, rasanya ingin tahu bagaimana dia sekarang. Hanya itu.” kataku berbohong. Aku juga sebenarnya ingin mengembalikan diarinya. “tapi, mau bagaimana lagi. Zi udah menikah?”
Kecut. Wajah Ibu Zi menatapku masam. Dia begitu dekat dengan Zi, pasti lah ia tahu masalah kami saat itu. pasti lah sebagai seorang ibu, dia punya rasa dendam padaku yang berani mematahkan hati bahkan meremukkan hati anaknya. “belum, tapi sudah ada niat tahun ini.”
“niat?” kataku menekankan. Ibu Zi mengangguk. “Menikah?” tanyaku lagi lebih dalam, ada rasa tak biasa saat mengatakan ini. rasa tak terima, rasa tak dapat ikhlas. “Tahun ini?” dan sekarang aku begitu tersudut. Dengan mata hampir berair. Bagaimana mungkin ikatan kami terlalu kuat, kami bahkan akan benar-benar berpisah di tahun yang sama.
“Kamu nanti juga tahu Dave, sebenarnya Ibu berat ngelepas dia ke tangan orang. Tapi karena ibu enggak bisa nahan dia pergi, ibu enggak tega ngelihat dia kacau waktu nerima surat dari kamu, ibu akhirnya harus ikhlas.” Tutur Ibu Zi. Dia mempunyai bola mata yang sama dengan Zi, membuat semuanya terlihat klise di mataku. “Ibu juga enggak bisa salahin kamu, kalian dulu masih belum bisa dibilang dewasa.”
Dan aku hampir merintih. Malu karena sekarang aku di naungi rasa sedih seorang Ibu. aku mencoba tetap tenang di sofa yang masih seperti dulu ini. tapi tak bisa, rasanya aku terpuruk dengan kata andai.
Kami berbincang panjang, tak lama senja berganti gelap. Sebelum ku pamit pulang, aku memberi nomor ponselku pada Ibu Zi, semoga nanti dia menghungiku. Ada kelegaan sedikit saat dia mengantarku ke depan sambil tersenyum. Aku setidaknya mendapat sedikit informasi tentangnya, dia telah bekerja, dia sekarang telah mempunyai seseorang yang menyayangi dan mengerti dia, dia juga akan pulang dalam waktu yang dekat.
“Oh iya, saya mau titip ini Bu.” Kataku keluar lagi dari mobil. Aku menyodorkan diari miliknya sambil berharap tangannya mau menerima.
Tapi bukan menampanya, Ibu Zi malah mendorong tanganku yang menyuguhkan diari ini. “Ibu udah kapok jadi penitipan, nanti kamu kasih langsung ke dia aja. Kapan-kapan kalau dia mau pulang, ibu kasih kabar kok.”
Dan aku menghembuskan nafas pedih lagi. Bertemu? Apa yang dapat aku lakukan saat melihat dia nanti. Apa yang akan ku perbuat melihat matanya yang pasti pernah menangis karenaku. “kalau begitu, makasih ya Bu. Saya pulang dulu.”
—o0o—
“Dave kenapa akhir-akhir ini murung?” tanya Fani. Rambutnya masih terlihat lembah. Duduk di gazebo bersamaku. “ada masalah di kantor?”
“enggak ada kok.” Kataku mencoba tersenyum.
“kamu enggak bisa bohong sama aku Dave, aku ini udah belajar tentang kamu selama tiga tahun.” Mata Fani menyipit mencoba menguak kebohonganku. “sekarang, kamu cerita atau aku yang ikut murung?” ancamnya dengan nada manja.
“aku enggak kenapa-kenapa sayaaanngg.” Kataku membelai rambutnya. Dan begitu lah aku, aku pun belajar tentang diri Fani, dia pasti tak kuasa saat ku manja.
Fani mendumel sambil tersenyum lebar. Tak ada yang mampu membuatnya mengalah kecuali apa yang ku lakukan barusan. “Dave, kamu curang.” Dia masih tersenyum. “malem ini kita keluar ya? Saya udah merasa bosan di rumah terus, Ayah dan Ibu kamu juga bosen saya ajak bercanda kayanya.” Tutur Fani menyandar di pundakku. Aku hanya mengangguk, mengiyakan. Kasihan juga dia, fikirku.
“kita makan malem di luar aja sekarang, gimana?” tawarku.
Fani makin memerah pipinya. “wah? Bener?” tanyanya tak percaya.
“iya Fani-ku jelek.” Kataku mengangguk lagi.
“Dave?” katanya.
“apa?” tanyaku.
“aku bisikin.”
Tanpa fikir panjang aku mendekatkan telingaku ke wajahnya.
“aku cinta kamu…” katanya berbisik pelan.
Fani langsung pergi ke arah rumah dengan setangah berlari kecil. Meninggalkan sebuah ciumannya di pipi. Aku kaku, begitu kaku.
—o0o—
Sejak pulang dari mall, Fani bersikap tak seperti biasanya. Dia hampir tak berkata sedikitpun, bahkan terkesan cemberut. Aneh sekali, fikirku. “Kamu enggak suka ya? Aku janji, besok kita ke tempat yang lebih seru. Ya?” kataku memasang sabuk pengaman.
Fani tak menggubrisku, malah dia membuka kaca mobil selebar-lebarnya. Dia melihat ke luar, membiarkan rambutnya tertiup oleh dingin.
“Fan, kamu nanti masuk angin.” Kataku mencoba meraih tombol tuk menutup kaca jendela. Fani kini memandangku, tidak, menatapku tajam dengan mata yang dia biasa pakai untuk menari pendet. Aku tak berkutik, aku hanya mengalah dan ikut aksi diam seribu bahasanya.
Perjalanan ke rumah terasa sangat lamban. Biasanya Fani akan mengajakku berceloteh tentang mimpi yang di alaminya semalam, tentang cerita sahabat-sahabatnya di kampus, tentang anak-anak penari kecil di sanggar, tentang khayalan saat kami nanti berkeluarga, intinya dia tidak akan diam dan tentu dia akan menutup kaca jendela.
“Fan, kamu kenapa? Kok tiba-tiba aneh gini?” tanyaku mencoba meminta penjelasan. Seingatku dia tak gampang se sensi ini walau dalam keadaan merah. Ku hentikan mobil depan rumah kami, sambil menekan klakson pelan agar ada orang yang membukakan pintu untuk kami.
Fani malah membuang muka dariku. Dia membuka pintu mobil dan keluar saat Ibu membuka pintu rumah.
Aku mencoba mengejarnya, tapi yang ku lihat sebuah buku di kursi yang ia duduki tadi. Diari Zi. Spontan aku merasa marah pada diriku sendiri, aku begitu bodoh! Mengapa hal yang bisa ku sembunyikan selama tiga tahun darinya malah terkuak dengan cara tolol seperti ini. aku teledor, lupa mengembalikan buku ini ke tempat yang aman. Aku lupa dari minggu kemarin saat aku berkunjung ke rumah Zi.
Setiba di kamar, aku mencoba mengetuk kamar Fani yang berseberangan dengan kamarku. Tapi tak ada jawaban. Tak ada elakkan tuk tak membuka juga.
“kenapa dia Dave?” tanya Ibuku saat aku mengetuk pintu kamar Fani yang ketiga kalinya. “kalian berantem?”
Aku menggeleng. “Cuma mastiin dia ganti baju, soalnya tadi kita keringetan.” Kataku bersilat lidah. Baiknya ibu tak tahu, biar ku selesaikan ini.
“perhatian juga kamu, udah enggak cuek kaya sama si…”
“Bu!” potongku. Aku mengerti ibu punta selera humor yang tak padam, pasti barusan maksud dia adalah sikapku dulu terhadapa Zi. Aku takut Fani mendengar kami. “udahlah, aku mau tidur.” Kataku menahan emosi lalu pergi ke kamar.
Kepalaku hampir pecah. Sebelah kanan mengingatkan masa lalu, sebelah kiri menakutiku di masa depan. Bagaimana kalau Fani membaca seluruh bagian diari ini? bagaimana jika dia minta pulang besok? Atau jangan-jangan dia kabur malam ini juga? tidak…aku harus tenang. Besok, pagi-pagi aku akan ceritakan semuanya. Aku tak boleh membuat Fani sakit hati, zi hanya masa laluku, harusnya aku tak usah panik.
—o0o—
“fan…” kataku saat mendekatinya menyirami tanaman. Dia begitu suka dengan bunga, ayah semenjak pensiun juga menggeluti hobinya dengan tanaman. “aku bisa jelasin, tolong dengerin aku sebentar aja…” pintaku memelas, seperti saat dia sedang sakit dan ku bujuk tuk makan.
“apa?” akhirnya Fani mau menimbal. “semua udah jelas Dave, kamu murung selama ini karena dia kan? Dia yang ciri-cirinya persis kaya aku kan? Yang sama-sama suka nulis, yang sama-sama cinta puisi, ah,, atau mungkin kamu jadiin aku sebagai kekasih kamu karena aku mirip dia? Karena aku bisa gantiin dia? Karena kamu harap suatu saat aku bisa berubah jadi dia?”
“berhenti Fan!, dia itu Cuma masa lalu aku fan!” Kataku meyakinkan.
“masa lalu? Mana mungkin sebegitu gampang kalau kamu tetep simpen itu Dave, aku yakin, kamu masih punya perasaan kan ke dia? Sekarang karena kamu udah pulang ke sini, kamu bebas. Gitu?” Fani berhenti menyiram tanaman, dia menghadapku dengan wajah yang membuatku takut.
“dia enggak ada di sini!” jawabku.
“kamu?” Fani membelalak. Mata khas gadis balinya terlihat nyata. “gimana kamu bisa tahu? Jadi? Jadi selama ini kamu udah cari tahu tentang dia? Dave, kamu bener-bener jahat Dave!” Fani membanting selang ke tanah lalu berlari ke kamar. Tak lama, suara gebrakan pintu terdengar.
—o0o—
Selama di kantor, aku tak dapat fokus. Aku sengaja mematikan ponselku, aku tak ingin diganggu saat ini. emosiku harus tertahan selama jam kerja. Hingga akhirnya saat jam pulang, aku sengaja memacu sedanku melebihi cepatnya angin. Aku tak memberikan contoh baik, tapi terserah apa kata mereka. Sekarang, yang harus ku lakukan adalah pulang dan langsung melamarnya. Ya, hanya itu yang dapat membuat masalah selesai.
“Dave…” rintih ibu saat aku keluar dari mobil.
“kenapa Bu?” tanyaku menduga-duga ada yang tak beres. “mana Fani??”
“itu dia Dave, dari pagi dia ngunci dirinya di kamar, terus sorenya dia ngeluarin kopernya, matanya bengkak kaya habis nangis panjang. Dia sekarang udah di jalan, udah pergi naik taksi. Tadi bapak kamu udah nahan dia, tapi dia mohon-mohon ke kita sambil nangis.” Kata ibu. “kamu di telpon tapi enggak aktif.”
Aku bagai di sambar, panah, peluru, petir. Dari segala arah. Hancur, terbelah, terkeping. Penyesalan tiada guna, aku sangat menyesal. Aku sangat-sangat menyesal. Aku rupanya gagal.
Ku nyalakan ponselku, mencoba menghubungi Fani. Begitu lega saat nada sambungnya terdengar, tapi kembali penat saat dia mematikan panggilanku. Aku terus menghubunginya, tak ada jawaban lagi.
Di antara masa lalu dan masa depan, aku terkurung.
Malamnya aku dengan berusaha tenang menelpon orang tua Fani. Hasilnya tak mengecewakan, mereka masih mau mengangkat teleponku.
“Fani udah nyampe pak?” tanyaku dengan rasa takut menghujam-hujam. Bagaimana jika mereka bertanya balik, bagaimana jika Fani tak pulang? Aku lah yang paling bersalah.
“iya, dia barusan aja nyampe. Katanya dia lupa, ada yang harus di selesain di kampusnya besok.” Jawab bapak sama ramahnya saat sebelum kami pergi. “kata Fani kamu enggak bisa nganter sampe kesini, Cuma sampe bandara ya?”
Bandara? Rupanya Fani berbohong pada orang tuanya. Aku merasa pilu, Fani begitu berjiwa besar, harusnya aku tak membuatnya begini, Fani walau dalam keadaan sakit, dia tetap menjaga nama baikku.
“kalau gitu syukurlah.” Kataku setelah hening. “suruh dia istirahat ya pak.” Tutupku. Kasihan dia, batinku. Pasti lelah bagi dia untuk melupakan setiap cerita dalam buku itu. aku harus cepat mengembalikan diari itu, atau aku harus membakarnya.


Lizzie.
Aku memakai gaun malam yang dibelikan Geb. Merah hati dengan sentuhan bunga di pinggirannya. Ayahku kini tak terlalu sering ke kantor, kondisi kesehatannya menurun. Semenjak itu, dia menitipkannya padaku, dan tentunya mempercayakan Geb tuk membimbingku.
Malam ini Geb mengajakku ke sebuah restoran dekat kantor. Dia memintaku mengenakan gaun yang ia pilihkan malam ini, tak seperti biasanya. Aku masih menyisir rambutku ketika ponselku berdering.
“Hallo mah?” sapa ku. “ada apa?”
“enggak apa-apa.” Jawab Ibuku pelan. “Cuma, yahh.. kangen.” Kata-katanya membuat aku merasa bersalah, aku terlalu lama tak mengunjunginya. “kamu lagi ngapain Zi?”
“niatnya mau makan malem di luar sama Geb, mamah lagi sakit ya?” tanyaku balik. Biasanya kata ayah, Ibu akan menelponku saat sakit.
“enggak kok.” Rasanya pilu lagi. “kamu kapan main ke sini?”
“besok.” Jawabku cepat. Tanpa perlu pikir panjang.
“yang bener? Kamu serius Zi?” suara di seberang terdengar lebih semangat. Ya, aku berharap begitu.
“iya mah, aku langsung pesen tiket tercepat buat ke sana.”
“kamu nih emang suka mendadak ya!” Ibu hampir tertawa. “ya udah, kamu cepet berangkat sana.”
“hehehe, met ketemu besok ya mah. Jangan lupa masak yang enak, besok kita jalan bareng!” tutupku dengan sumringah. Aku mendengar suara decitan ban mobil dari luar. Pasti Geb.
—o0o—
“hey cewek baru dua puluh setengah tahun.” Ledek Geb saat menuang anggur di gelasku. Dia sengaja memilih tema candle light malam ini. “cantik sekali kau ini!” kali ini Geb lebih konyol dengan gaya kemedan-medanan.
“dasar Gabriel gombal!” umpatku menahan rona di pipi. “awas, salah-salah lilinnya bikin kebakaran.”
“nah, tiga tahun pacaran, tiga tahun aku enggak pernah dengar kamu ngomong yang manis-manis.” Protes Geb. Dia memasang wajah sok ‘ngambek’-nya. Dia malam ini terlihat gagah, dengan rambut yang tertata dan dibalut blazer putih susu.
“nyesel?” ledekku menenggak anggur. “kenapa baru sekarang protes? He???!” kataku berlagak galak.
“tuh kan, enggak ada romantis-romantisnya nih cewek. Biasanya cewek bakal bilang ‘aku minta maaf ya, selama ini aku belum bisa lembut ke kamu’, kalo ini mah apa?” Geb makin membuatku terkekeh.
“aku minta maaf ya, selama ini aku belum bisa lembut ke kamu.” Kataku menirukan dengan gaya bencong.
“hehehehe, aku ngerti kok. Aku nerima kamu apa adanya, enggak perlu cemas.” Rupanya Geb masih ingin melanjutkan. Dia lalu tersenyum lebar, persis bagai di malam itu. lalu dia memberiku isyarat tuk makan. Kami menikmati hidangan malam itu di bawah sinar lilin.
“zi…” kata Geb setelah selesai makan.
“ummm?” kataku bermaksud ‘apa?’
Lalu Geb mengeluarkan sebuah kotak merah, dan membukanya. Isinya hanya sebuah cincin dengan sentuhan batu permata, tak terlalu mencolok. Lalu tangannya meraih kedua tanganku. “aku mau nunjukin keseriusan aku ke kamu Zi, terima ini ya? Ini Cuma sebagai simbol, kamu mau kan tunangan sama aku?”
Aku melihat sebuah ketulusan lagi dari sorot matanya. Aku tersenyum, hanya itu yang ku lakukan. Dengan sedikit anggukkan aku katakan ya. Cepat namun lembut, Geb memakaikan cincinnya ke jari manisku. Begitu terharu karena semua yang ia berikan mampu membuatku sembuh.
Geb berdiri dan melangkah ke sampingku, aku awalnya tak mengerti apa yang di lakukan. Tapi tiba-tiba dia mengambil tanganku dan menciumnya.
—o0o—
“kok mendadak banget sih?” protes tante hilda saat aku pamit. Toh ini akhir pekan, libur kerja. “kapan-kapan kamu ajak Ibu kamu kesini.” Kata tante Hilda saat aku mencium tangannya. Aku tersenyum, mana mungkin ibuku mau.
“sama Geb?” tanya ayah.
“iya, katanya Geb mau ngomong sama mamah.” Jawabku jujur.
Mila yang baru bangun—dia telah bekerja di perusahaan tekstil ternama di sini sejak dua tahun yang lalu—langsung memberikan tangannya kepada ku untuk di cium juga. “sungkem dong.” Katanya konyol membuat kami bertiga tertawa. Aku hanya menurutinya, dia bagaimanapun kakakku. “siap-siap lu Zi, jangan-jangan Geb mau minta izin ke nyokap lu buat nikah lagi…” katanya menakut-nakutiku.
Aku tersipu malu. Belum ada bayangan tuk menikah dengannya, belum ada rasa ingin. Tante hilda dan ayah terkekeh melihat kami.
“tapi terserah mau izin sampe sekarat kek, tahun ini gue udah booking duluan sama Arya. Kalian nunggu tahun depan ya…” kata Mila dengan PD-nya. Harya, pacarnya yang menjadi atasannya di kantornya.
“oh ya? Waww…” kataku berlagak kaget.
“ya udah, Pah, Mah, Jah. Aku mandi dulu ya…” mila pergi dengan gaya cat walknya. Jah, maksudnya ijah. Dia memang kurang ajar.
Tak lama Geb masuk ke rumah dan menyalami orang tuaku. Kami pun pamit dan pergi ke bandara.
—o0o—
“oh, ini toh yang namanya Gabriel.” Kata ibuku saat kami masuk rumah. Geb melihat sekeliling, merasa kesejukkan yang begitu menggiurkan. Gabriel sepertinya berpengelaman ‘berkunjung’ ke rumah pacar. Buktinya dia tak ada rasa canggung sedikitpun saat salim ke ibuku.
“kenapa Bu? Terlalu ganteng ya?” kelakar Geb seperti biasa. Aku menepuk pundaknya saking tak dapat menahan tawa.
Aku ke dapur dan membuatkan mereka teh. Tak seperti biasa, aku mulai teringat.
Mereka sangant cepat akrab, buktinya saat aku kembali dari dapur, mereka telah sedang membicarakan tentang masa kecil Ibu. “diminum dulu.” Kataku bersikap sopan.
“tumben nih pembantu sopan.” Komentar Geb membuat ibuku tertawa. Aku memelototinya hendak meninju wajahnya. “ampunnnn.” Katanya menyipit.
“kamu ganti baju gih, enggak kangen ke kamarmu?” tanya ibu.
Aku pun melangkah ke kamar dan melihat keadaannya. Tak ada yang berubah, tak ada yang tergeser. Tiba-tiba ibu masuk dan menutup pintu. Matanya menatapku serius. “Dave udah pulang.”
Satu…
Naluriku tuk bahagia menghilang,
Dua…
Aku yakin tanah yang ku pijak belum melayang,
Tiga…
Semuanya mencuat lagi.
“pulang?” ulangku. Ibuku mengangguk. “mamah tahu dari mana??” tanyaku setengah tak percaya. Kepalaku terasa terpukul palu.
“sekitar seminggu yang lalu, dia kesini. Dengan seragam dinasnya, nyari kamu.” Tutur ibuku pelan, takut Geb mendengar.
“nyari aku?” aku tak percaya. “untuk apa? Bawa anak?”
“katanya mau ngembaliin buku.”
“buku?” tiba-tiba otakku berpacu tuk berfikir. “buku apa?”
“diari kalau enggak salah.”
Aku hampir saja lupa kalau aku sekarang dua puluh tahun lebih, harusnya aku tak terpengaruh oleh masa lalu yang hanya tinggal bayangan itu. andai dia buang diari itu, harusnya aku tak keberatan.
“terus? Mana diarinya?” tanyaku lagi, mulai penasaran.
“mamah enggak mau kayak dulu lagi, nanti salah-salah kamu kacau lagi.” Jelas ibuku. Well, berarti ibu mengerti aku dulu kacau dan pergi karena dia. “jadi, mamah suruh dia balikin sendiri itu, langsung ke kamu.”
“apa?” aku begitu shock. Lalu tiba-tiba aku menangkap seutas fikiran. “mamah nelpon aku semalem karena ini kan?” desakku.
Ibuku tak menjwab, wajahnya melesu. “mamah udah terlanjur janji ke dia, mamah akan kasih tahu dia kalau kamu kesini.”
Aku berdecak dan terduduk di meja belajarku. Merasa bersalah membawa Geb kemari, merasa bersalah karena Geb pasti lama-lama akan tahu.
—o0o—
Pagi-pagi sekali, ibuku telah riuh di dapur. Aku semalaman tak dapat tidur nyenyak, sulit untuk membayangkan jika aku nanti bertemu dengannya. Si masa lalu pastinya telah lupa denganku, mengapa aku yang masih tak dapat mengikuti caranya? Apa yang harus ku lakukan sekarang, membiarkan Geb tahu sendirinya tentang si masa lalu, atau aku langsung berterus terang?
Come on Lizzie, aku yakin, tak akan ada masalah yang selesai tanpa jujur dan terbuka. Lagipula, Geb telah mendampingiku selama tiga tahun ini, sedangkan dia? Aku dan dia hanya beberapa bulan, dia hanya cerita masa remajaku, dia hanya sang tokoh dalam kisah yang ku tulis di lembar-lembar diariku, mungkin juga dia hanya sebuah kenangan nantinya.
“kamu enggak mandi?” tiba-tiba Geb mengetuk pintu kamarku. Semalam dia tidur di ruang tamu sambil menonton sepak bola. “udah siang nih neng.”
Aku lalu memutuskan tuk membuka pintu dan tersenyum padanya. “hoaammmmhhh.” Aku berpura-pura menguap di depannya.
“mandi sono, udah itu kita semua jalan yuk!” ajaknya menyemangatiku. Aku tergiur untuk beberapa saat. Tapi aku ingat pembicaraanku dengan ibu kemarin sore. Aku dan Dave harus bertemu, menyelesaikan segalanya.
“kamu sama mamah aja ya? Hari ini aku mau ke rumah sahabatku, ummm…gengku dulu.” Kataku berkilah. Dalam hatiku, aku berharap Geb tak mau ikut. “Kamu mau kan ajak mamah jalan-jalan? Please….?” Kataku memanja. Aku mengambil tangan kanannya dan menggenggamnya. Ini adalah caraku jika meminta sesuatu darinya.
“hemmhhhh…” gumam Geb berfikir. “Iya deh.” Kata Geb akhirnya. Membuatku lega. “Ya udah, mandi dulu sana.” Geb meninggalkanku ke ruang tamu.
Kamar mandi rumahku berada di dekat dapur, saat aku melewatinya, ibuku yang sedang mengaduk-aduk nasi gorengnya. Aku langsung dapat mencium aroma bawang merah saat masuk ke dapur.
“Nasi goreng nih!” kataku mencicipi sedikit. “Enak!” pujiku setelahnya.
Ibuku tersenyum. “Enggak malu apa? Si Geb udah mandi pagi-pagi tadi, kamu jam segini masih cemong.”
Aku ikut tersenyum. “Oh iya, Mamah punya nomor Dave?” tanyaku setengah berbisik, takut kalau Geb mendengar. Ibuku mengangguk. “Mamah hari ini ajak Geb jalan-jalan ya? Aku mau ngambil buku itu.”
“Kamu enggak ajak Geb aja? Biar Geb tahu.” Usul ibu.
Aku langsung menggeleng kuat. Geb bisa-bisa emosi, fikirku. “Enggak mah, belum sekarang.” Kataku.
Ibuku mengangguk-angguk setuju. Lalu aku meninggalkannya ke kamar mandi. Semoga, nanti aku dapat tegar.
—o0o—
Dave.
Setiap kali aku menelpon Fani, dia terus menerus mematikannya. Andai besok aku dapat libur, pasti hari ini aku telah terbang ke sana tuk menemui dan menjemputnya. Kamu kenapa fan, lirihku.
Aku terus menerus memandangi ponselku, berharap dia mau bermurah hati memaafkanku dan menghubungiku. Namun, yang ku lihat ada sebuah pesan dari nomor yang tak ku kenal. aku cepat-cepat bangkit dari rebahanku dan segera membacanya. Mungkin saja ini Fani, fikirku.
Kamu masih simpen diarinya? Kata ibuku, kamu ingin mengembalikannya. Baik, hari ini aku ada di kota ini. temui aku di tempat terakhir kita bertemu dulu, sekarang.
Aku tak dapat berfikir sehat sekarang. Aku dihadapkan pada kenyataan yang pahit lagi, bertemu dengannya. Jelas aku akan menambah masalah jika aku tak datang. Jadi setelah menyimpan nomor ponselnya di kontakku, aku segera ganti pakaian dan pergi ke tempat itu.
Lizzie.
Aku berjalan lebih pelan saat melihat sebuah sedan hitam metalic terparkir di bawah pohon yang akan ku tuju. Mataku masih belum menemukannya dari tadi. Mungkin dia sedang melihatiku dari dalam mobilnya sekarang, atau mungkin dia sedang dengan istrinya memperhatikan dan menertawakanku.
Saat aku melangkah tuk yang terakhir, aku melihat seorang lelaki duduk di balik batang pohon. Tentu ini dia. Tapi, aku belum dapat melihat wajahnya secara keseluruhan. Dia mengenakan kaus putih di balut dengan jaket merah tua, dipadu celana jeans hitam. Sangat sederhana, seperti dia yang dulu. Tak lama dia menoleh dan melihatku dengan sedikit terkejut.
Dave masih belum bicara, hanya samar-samar ku lihat dia tersenyum. Dia lantas bergeser dari tempat duduknya dan mempersilahkanku duduk di sampingnya.
“Makasih.” Kataku pelan. Sangat pelan, mungkin Dave juga tak mendengarnya. Mungkin suaraku terguncang oleh dentuman jantungku yang dari tadi bagai meloncat-loncat tak karuan. “Udah lama?” kini suaraku lebih terdengar keras.
“Enggak kok.” Jawabnya tanpa menggumam seperti yang ku fikir. “Oh iya, ini.” katanya menyodorkan diari yang sangat aku kenal. “Maaf baru sekarang aku bisa ngembaliinnya.”
Aku tersenyum kecut. Aku tak pernah menyangka, tapi sekarang, di detik ini, aku malah duduk di sampingnya. “Enggak apa-apa.” Kataku melihat ke depan. Ku lihat bayangan kami yang terpantul di kaca mobil Dave. “Kamu sendirian kesini?”
Dave menatapku. “Iya.” Jawabnya rada kaku.
Sunyi. Apa sekarang aku pergi saja?
“Kamu pulang atau sekedar main ke sini?” tanya Dave tiba-tiba. Aku mengurungkan niatku tuk pamit pulang.
“Nanti sore juga pulang, Cuma mau nengokin ibuku. Kamu?”
“aku mungkin menetap di sini, aku udah pindah dinas.” Tuturnya. “cincin kamu lucu, aku pernah liat itu, limited.” Katanya saat melihat tanganku yang sedang menyisir rambutku dengan jari.
“eh?” aku terdiam. Teringat Geb yang begitu setia terhadapku. “Aku di kasih.”
“Pacar kamu punya sense, hebat juga.” puji Dave.
Aku mencerna kata-kata Dave dengan pelan. Apa dia sekarang benar-benar menganggapku biasa? Tak ada rasa canggung dan sakitkah bertemu denganku? “Istri kamu orang sana?” tanyaku.
“istri?” ulang Dave. “Aku belum punya isrtri Zi.” Senyumnya mengembang, dan ini kali pertamanya dia menyebut namaku setelah sekian lama. “Ibu kamu enggak cerita?”
Well, dia masih membuatku ingin menangis. Entah, mungkin aku tak dapat munafik lagi, aku sepertinya masih punya rasa. “Aku enggak nanya sama dia kemarin, aku fikir kamu udah berkeluarga di usia kamu yang sekarang.” Ku paksa diriku tuk tersenyum lagi.
Dave, dengan wajahnya yang terang, tubuh yang tinggi, dan dada yang bidang. Pasti banyak perempuan yang menyukainya. Dave adalah pilihan yang tak mungkin disepelekan. “Belum, masih rencana.” Katanya.
Getir yang ku rasa menjalar ke setiap paru-paruku. Bagai tercabik, kata-kata Dave yang begitu singkat barusan. Aku hanya menunduk, memandangi sepatuku yang terkena bercak air.
“Zi,” panggil Dave. Membuat aku spontan bergidik. Aku melihatnya melalui ekor mataku, persis yang pernah dia lakukan dulu. “Aku minta maaf.”
Aku kembali diam. Terlalu berat untuk angkat bicara, aku terlalu takut. Takut jika dia tanya rasaku. Takut jika tumpah air mataku, takut semua yang aku sembunyikan muncul lagi.
“Aku tahu, kamu pasti masih punya rasa sakit. Tapi aku bener-bener minta maaf Zi. Aku enggak tahu gimana, hidupku terasa enggak tenang selama ini, aku merasa punya beban yang enggak akan hilang sebelum aku minta maaf ke kamu. Aku bener-bener enggak tahu Zi kalau waktu itu aku salah dengan keputusanku.”
“Udah Dave.” Potongku. “Aku ngerti kamu bermaksud baik.” Lanjutku setelah yakin untuk mengatakannya. “Sekarang, kamu hanya perlu jaga orang yang mencintai kamu, jangan tinggalin dia untuk alasan apapun, karena, karena aku tahu persis gimana rasanya sakit itu.” aku menatap Dave dengan senyuman yang ku ukir. “lama buat nyembuhin itu, sangat lama.”
"benarkah?"
"Dave, aku rasa ini bukan tujuan kita ketemu kan? aku udah enggak mau bahas itu. bisa?" pintaku melihatnya dalam-dalam.
"maaf Zi, aku..." dia merunduk melihat bawah. tak ku sangka matanya bennar-benar terlihat menyesal, harusnya aku tak terlalu keras.
"Ummm..." gumamku. "aku kira aku mending pulang ke rumah, aku mau beli tiket. Seneng bisa ketemu kamu." Kataku sembari megulurkan tangan dan berjabat tangan degannya, Dave hanya diam. “sampai jumpa lain waktu ya, aku pulang.” Kataku seraya menyunggingkan senyum. Dave terlihat resah dan hendak mengatakan sesuatu, mungkin menahanku. Sampai jumpa? Mungkinkah?
seketika saat membalik tubuhku, saat aku yakin suaraku tak dapat terdengar lagi. aku menangis, membiarkan semuanya mengalir tanpa dia lihat. selamat Dave, kamu emang orang yang hebat, melihatmu saja rasanya sudah sakit. melupakanmu butuh waktu bertahun-tahun, untuk menghapus secuil namamu aku malah berlatih mengukir nama orang lain di hatiku.
Dave.
Setelah bertahun-tahun, aku dipertemukan kembali dengannya. Dia begitu aneh, bukan Zi yang dulu, yang begitu bersemangat di setiap kata-katanya, yang membuatku tertawa saat melihat tingkah lucunya. Tapi baru saja, aku bagai melihat sebuah imitasinya, bukan jiwanya yang ada di dalam tubuh Zi, bukan sifat Zi yang ku lihat. Tapi seorang wanita yang terkunci dengan cincin di jari manis, terjaga dan terkurung oleh seseorang. Apa ini karena ku? ya, aku lah yang membuatnya tak bersemangat. Aku lah yang berani-beraninya menyakitinya dengan kepergian dan kabar tak enak. Sekali lagi maafin aku Zi.
Suasana hatiku semakin kacau ketika melihat sebuah pesan dari Calon mertuaku. Singkat namun begitu menekan, dia bertanya padaku mengapa Fani murung selama pulang dari sini. Tentu, aku lah penyebabnya juga. andai semuanya dapat ku ulang, aku pasti memperbaiki semua keadaan. Tapi, aku harus mengulang dari mana? Dari sebelum berpisah dengan Zi lalu aku memperbaikinya dengan tetap di sini. Atau mengulang dari waktu aku mengajukan pindah tugas dan memperbaikinya dengan hidup di sana sambil hidup bersama Fani? Pedih! Aku benar-benar kelu, dua orang telah ku buat menderita. Dua-duanya hampir memiliki kepribadian sama, dua-duanya adalah orang yang aku cintai. Bedanya yang satu di masa lalu, dan satunya di masa depan.
Saat perjalanan pulang, aku berhenti di sebuah kafe. Tak jauh dari rumah Zi, karena rumahku melewati rumahnya. Sebelum pramusaji itu menghampiriku, aku membuka ponsel lagi dan membaca pesan dari ayah Fani, pasti dia mulai menyadari ada yang tak beres dengan kami.
“Pesan apa Mas?” tanya perempuan pramusaji ramah membawa catatannya saat sampai ke mejaku. Aku sekilas melihat ke arah luar, mendung. Tidak, mulai terlihat rinai hujan.
“Cappucino ya Mbak.” Jawabku lalu memandang ke luar kaca di pinggirku. Sang pramusaji terlihat tertegun katika matanya sedikit melebar. Aku hanya memasang senyum dan akhirnya dia pergi.
Sambil menunggu pesananku datang, aku mencoba menelpon Fani. Tak pernah aku kira, Fani mengangkatnya.
“Halo?” kataku saat nada tunggunya berhenti. “Fan?”
“iya, ada apa Dave?” tanyanya datar.
Aku tak mempermasalahkannya, mungkin butuh waktu baginya tuk mau mendengarkanku. “Kamu lagi apa?”
“Enggak ngapa-ngapain kok.” Jawabnya. Lalu terdengar gemerisik, bagai dengusan nafas panjang. “umm,kamu sendiri lagi apa?”
“Aku..” kataku berfikir sejenak. Tak mungkin aku katakan kalau aku baru saja bertemu Zi. “Aku lagi ngopi di kafe aja.” Ku coba tuk mencairkan suasana. Fani tak mengatakan apa-apa lagi. “Fan? Aku mau minta maaf soal kemarin. Aku..aku sebenernya mau kasih tahu kamu tentang itu, tapi aku fikir enggak ada gunanya. Itu hanya masa lalu, masa sekolah yang enggak sengaja aku bawa hingga terakhir aku ketemu kamu. Aku jujur Fan, aku udah enggak ada apa-apa lagi dengan dia.”
“enggak Dave, Aku yang harusnya berfikir panjang, aku juga minta maaf, mungkin kemarin aku Cuma takut kehilangan kamu, aku enggak bisa bayangin andai kamu pergi. Pasti sakit. Aku ngelihat tulisan dia, karena sama-sama penulis, aku bisa tahu gimana dia sungguh-sungguh setiap mengurai perasaanya dalam setiap puisi, aku ngelihat percakapan kalian setiap harinya yang dia rekam dalam diari, aku kayak baca novel. Dan novel itu pasti lah best seller. Tapi sekarang aku sadar, itu hanya masa lalu. Iya kan?” Fani benar-benar membuatku takjub. Aku tak dapat menepis bayangannya lagi.
“Jadi, sekarang kita enggak diam-diaman lagi kan?” tanyaku begitu senang. Fani hanya terkekeh, berarti iya. “Aku besok minta cuti deh, aku mau kesana. Enggak ketemu kamu beberapa hari, aku udah kangen bukan main Fan.”
“Hemm?” Fani berbunga-bunga. “Enggak perlu Dave, besok Fani aja yang kesana. Ya?”
“Enggak ah, aku enggak tega ngebiarin kamu sendiri. Aku jemput kamu besok, oke?”
“Davevvv….” Bantah Fani. “Aku yang nanti kesana, titik.”
Aku menggumam tak setuju.
“Dari pada kamu buang-buang cuti yang kebatas, mending aku sendiri. Kan kalo naik pesawat Cuma sebentar, lagian aku juga pas pulang kesini kemarin sendiri bisa, enggak usah khawatir. Oke?” desak Fani seperti biasa dengan nada manja.
Aku hanya bisa mengalah. “hummm, iya deh. Besok aku jemput di Bandara. Jam berapa kamu berangkat?”
“Mungkin dini hari.” Jawabnya lembut.
“Oke, sampai ketemu besok ya. Hati-hati.” Tutupku sembari tersenyum.
Akhirnya ada rasa lega sedikit. Sedikit? Oh Tuhan, apa yang sebenarnya melandaku? Mengapa aku masih tak dapat tenang? Fani sudah membaik, tapi mengapa masih ada yang kurang? Lizzie kah? Apa aku masih memikirkannya? Dia bukan siap-siapaku lagi, pertemuan singkat tadi harusnya menegaskan bahwa aku dan dia telah tak ada apa-apa. Bahwa itu adalah perpisahan panjang.
“Sendirian Mas?” tanya pramusaji saat meletakkan cappucino di depanku. Aku tak menjawab. Pasti itu hanya cara mereka mendapatkan pelanggan, dengan terlihat ramah dan akrab. Apalagi, orang ini sepertinya banyak omong.“Saya jadi inget seorang cewek waktu itu.” katanya tersenyum.
Aku sedikit tertegun. “o ya? hummm..”anggukku agar tak terlihat sombong.
“iya Mas, waktu itu saya masih baru kerja di kafe ini , dia duduk persiiissss di sini.” Katanya menunjuk kursi yang ku duduki. “Sambil baca selembar kertas gitu.., kaya surat kalo dilihat dari bentuk amplopnya, mukanya lesuuuu banget, pucet pasi, mana di luar hujan lagi, tapi dia datengnya malem Mas.” Tutur si pramusaji memeluk baki.
Sesaat, aku seperti tergiur untuk bertanya. Entah kenapa, rasanya aku ingin tahu. Telingaku terasa ngilu ketika mendengar kata-kata surat.
“Nah…yang bikin dia sama kaya Mas itu, dia juga Cuma mesen secangkir cappucino.” Lanjutnya dengan senyuman lebar. Bagai seorang ibu yang sedang menceritakan sebuah akhir kisah dongeng pengantar tidur.
Aku kembali menikmati kopiku, berharap orang ini pergi dengan merasa mengusik.
“Tapi udah lama Mas.” Katanya lagi. Terpaksa aku memasang senyum lagi. “Udah tiga tahun yang lalu.” Dan dengan gontai sang pramusaji pergi.
Ada yang membuatku merasa mendapatkan titik terang saat dia mengatakan kata tiga tahun yang lalu. Tiba-tiba darahku berhenti berputar, mendesir kuat. Tiga tahun yang lalu, surat yang di baca, hujan mengguyur di malam hari, wajah yang pucat pasi, dan secangkir kopi. Satu jawaban yang pasti: Lizzie!
—o0o—
“aku boleh nanya?” tanya Geb saat dia berbaring di sampingku di atas tempat tidur. Geb masuk ke kamarku dan mendapati aku selesai mandi, aku tidur tengkurap setelah memilih-milih antara puisi dan cerita harian dalam diariku. Aku memisahkan cerita-cerita ke dalam lipatan pakaianku yang besok akan ku bawa dan membiarkan puisi-puisi di dalam diari.
Saat aku pulang, ternyata Geb dan ibu telah di rumah. Ibu dan Geb urung untuk keluar karena mendung yang menggantung tadi siang. Jadi Geb memesan tiket lewat telepon.
“Apa?” tanyaku tanpa membalik tubuhku.
“Tadi ketemu Dave ya?” tanyanya. Geb berbaring miring menghadapku.
Aku langsung gemetar, membalik tubuhku dan mengambil posisi miring menghadapnya. Belum dapat ku jawab untuk sekian detiknya. Geb lantas menyibak poniku yang menutupi mata kananku, lembut.
“Mamah yang bilang?” tanyaku gugup. Pasti, siapa lagi? Tapi Geb malah tersenyum kering.
“Bukan.” Katanya menggeleng. “Jadi Mamah kamu tahu sebenernya?”
Aku kini mati kutu. Aku sangat teledor, pasti karena aku ketakutan. Aku memang salah. “Aku.. aku minta maaf Geb.” Kataku mencoba memelas.
Geb tersenyum sembari menyentuh bibirku dengan telunjuknya. “iya..aku bisa ngerti kok.” Katanya masih menyentuh daerah bibirku dengan pelan. “Tapi aku enggak suka dia bikin kamu murung lagi. Aku sedih Zi, aku enggak kuat setiap pura-pura enggak tahu kalau kamu sebenernya masih inget dia. Aku kesel karena aku belum berhasil nyembuhin luka kamu setelah sekian lama. Aku bisa lihat mata kamu kosong, diri kamu di sini, tapi hati kamu enggak.” Dengusnya. Membuatku terguncang, aku dengan tak sengaja telah menyakiti Geb.
Aku hanya memeluk Geb, sebagai satu dari sekian jawaban yang dapat ku berikan padanya. “Aku Cuma milik kamu, Geb.” Kataku lemah, Geb mendekapku. Mungkin ini lah cara yang terbaik. Ya, aku seharusnya mencintai orang yang mencintaiku. Semoga setelah pertemuan tadi, semoga setelah cerita itu ada di tanganku, semoga setelah memeluk Geb saat ini, aku dapat benar-benar pulih. Aku dapat benar-benar lupa.
—o0o—
“Sayang, aku ke toilet bentar. Tunggu disini ya?” kata Geb setelah kami beberapa saat duduk di bangku panjang. Kami sedang menunggu jam penerbangan kami, sekitar setengah jam lagi.
Aku mengangguk dan membiarkannya pergi.
Sambil menunggunya, aku mengambil diariku dari dalam tas yang ku bawa. Ku sempatkan diriku menulis , sebait. Tak lama, seseorang perempuan muda duduk di sampingku, sepertinya seumuran denganku. Aku meliriknya sejenak lalu melanjutkan baitku lagi.
“Suka nulis?” tanya perempuan di sampingku tanpa ragu. Dia lantas tersenyum.
“oh?” kataku bingung. Ternyata dia orang yang ramah, fikirku. “Iya.” Senyumku. “Umm.. kamu mau ke mana?” tanyaku lalu menutup diari dan memasukkannya ke dalam tas.
“Saya baru sampai, tak lama nanti dijemput.” Jawabnya dengan logat bali nan ramah. “um..kamu juga keh?” tanyanya balik.
“Aku mau pulang ke Jakarta.” Lalu ku ulurkan tanganku. “Kenalin, Aku Lizzie.”
Perempuan di sampingku tersenyum aneh. Dia terlihat seperti sudah mengenalku, membuatku bingung. “Hemm..” dia mengangguk-angguk memahami sesuatu. “saya Fani, senang bisa kenal kamu.” Lanjutnya lalu melihat kejauhan. Melihat lapangan udara yang penuh dengan pesawat sambil mengangkat telepon dari seseorang. “Kamu tinggal lurus, aku duduk di bangku panjang.”
Aku tak dapat berkata-kata lagi. Hanya menghirup udara kota ini untuk kesekian kalinya. “Kamu asli Bali?” tabakku setelah dia mematikan teleponnya. Fani mengangguk. “Pantes, pinter nari dong?” pujiku.
Fani mengangguk dengan senyuman mengembang dari bibirnya yang merah merekah. Menggambarkan kecantikan natural tanpa kosmetik, aku dapat mengkhayal bagaimana dia menarikan tarian bali yang indah. Dia begitu mungil dengan rambut panjang yang di gerai. Cantiknya makin tampak saat bertutur lembut.
“Kamu nunggu siapa?” tanyaku lagi.
“Fani?” panggil seseorang. Laki-laki.
Aku dan Fani spontan melihat ke arahnya.
Astaga.
“udah lama ya?” tanyanya pada Fani. Dia lantas melihatku. “Li??? Lizzie???” ternyata Dave pun sama terkejutnya denganku.
“hai?” hanya itu yang terlontar dari mulutku yang kaku. Tak terasa aku mulai gemetar lagi. Wajahku panas saat menyadari bahwa Dave adalah orang yang ditunggu Fani, gadis yang ku puji dari tadi. Pasti Dave lah kekasihnya. Aku begitu terpukul saat mata kami bertemu dalam jarak beberapa langkah.
“oh iya Fan, kenalin, ini Zi.” Kata Dave memecah ketegangan di antara kami bertiga. “Temanku.”
Ada rasa nyeri dalam diriku saat mendengar dia mengatakan kata ‘teman’.
Fani tersenyum melihat ke arahku, lalu kembali melihat Dave. “Fani udah kenal kok.” Jawabnya dengan nada riang. “Kita malah udah ngobrol tadi.” Lanjutnya. “Sayang, kamu tadi udah bilang Ibu?”
Oh tuhan!
Sayang??Ibu??
Aku benar-benar menyerah, tak kuasa melihat ini. seseorang harusnya membantuku, menutupi mata dan telingaku. Rasanya setiap kali aku memandang mereka, ada pisau tajam mengiris-iris hatiku.
“Udah.” Dave jadi canggung lagi, terlihat saat dia salah tingkah ketika mengambil koper yang dibawa Fani.
“Zi?” seseorang tiba-tiba menyentuh pundakku. Geb.
Aku membeku. Aku dan Dave membeku.
“Kamu teman Lizzie?” tanya Fani ketika melihat Geb. “Kenalin, saya Fani, dan ini Dave.” Fani memperkenalkan.
Geb sekarang juga membeku.
“hei…” Geb akhirnya yang pertama kali pecah dari es yang membekukannya. “Aku Geb.” Lalu mengulurkan tangannya pada Dave.
“aku Dave.” Balas Dave menjabat tangan Geb. “Kalian mau pulang?” tanyanya.
“Iya…” kata Geb lalu memberiku isyarat tuk berdiri. Berangkat.
Ku pegang tangan Fani sejenak. “Fan, Dave, aku duluan ya…”
“Kita duluan Dave…” Geb menggandeng tanganku.
—o0o—
Dave.
“Dave?” panggil Fani saat di setengah perjalanan. Aku hanya bergumam dan tetap melihat ke jalanan. “Kamu kenapa?”
Fani pasti sadar aku yang tak dapat konsentrasi dari tadi. Beberapa kali aku mengerem mendadak di jalan karena hampir menabrak kendaraan-kendaraan di depan kami. Tapi aku tak mau membahasnya sekarang, aku takut Fani nanti kembali bersedih. “Karena Lizzie dan pacarnya tadi?”
“Nanti aja ya bahas itunya ya Fan? Aku janji pulang cepet nanti sore. Oke?” kataku memohon sembari tersenyum sejenak ke arahnya.
Fani tertawa kering, mungkin merasa dirinya benar tentang apa yang ia fikirikan. Aku tak mempermasalahkannya, biarkan Fani bermain dengan fikirannya hingga nanti aku pulang kerja.
Apa yang dia lakukan sekarang? Apa lelaki itu benar-benar akan menyayanginya? Tuluskah orang itu? berapa lama mereka saling kenal? apa lelaki itu tahu tentangku? Dia kah yang melingkarkan cincin di jari manis itu? apa lelaki itu yang kini ditulisnya setiap hari? Akankah mereka hidup bahagia?
Dalam perjalanan, pertanyaan demi pertanyaan terus membenak. Sesekali aku menggigit lidahku ketika menyadari aku tak dapat berteriak karena di sampingku ada gadis yang baru saja membaik perasaannya. Aku pasti lelaki brengsek jika membuatnya menangis lagi.
“Kamu enggak perlu tahan itu Dave, kasihan diri dan hati kamu.” Fani menatapku lalu melihat ke luar jendela.
Aku masih tak mau bicara. Amarahku tiba-tiba ingin meledak jika ingat kejadian tadi. Aku lantas menginjak pedal gas lebih dalam, membuat laju mobil semakin tak karuan.
“Nanti kamu langsung masuk aja, Ibu sama Bapak ada di rumah. Aku mau langsung ke kantor, kayaknya hari udah mulai siang.” Kataku saat mobil kami telah dekat rumah.
“Kamu yakin kamu enggak apa-apa?” tanya Fani lagi. Kekhawatiran terukir di wajah putihnya. “Aku takut kamu nanti kenapa-kenapa kalau kamu tak bisa konsentrasi kaya tadi.”
“Enggak sayaaaangg….” Kilahku. Begitu terdengar datar namun mampu membuat Fani terlihat sedikit lega. Lalu ku hentikan mobil di depan rumah. Cepat-cepat aku mengeluarkan kopernya dari bagasi. Ternyata ibu sudah di depan rumah dan menyambut Fani.
“Aku berangkat dulu ya Bu, Fan.” Kataku pamit dan pergi masuk ke mobil lagi setelah memasukkan koper Fani ke dalam rumah.
“Hati-hati…” kata ibu.
“Hati-hati Dave!” tambah Fani.

Lizzie.
“Itu dia?” tanya Geb saat kami telah mengudara. “Dave?”
“iya.” Jawabku.
“Kamu murung lagi Zi.” Kata Geb mengingatkanku. Aku hampir lupa, aku telah janji. “Aku enggak akan maksa kamu pulang kalau ceritanya gini akhirnya.”
“Enggak kok.” Secepat mungkin aku tersenyum lebar. “A-ku ba-ik-baaa-iikk saa-jaa ko-oo.” Kataku menirukan gaya robot. Geb langsung terkekeh hebat, membuat para penumpang lain melihati kami. “Oh iya! Aku punya sesuatu buat kamu!” pekikku membuat Geb berhenti tertawa.
“Apa?”
Dengan pelan ku perlihatkan diariku pada Geb.“Ini diaa…” aku bertingkah layaknya seorang guru TK pada anak kecil.
“Ini..?”
“Kumpulan puisi oleh CALON NYONYA GAABRIIELLLL!”
Geb tertawa kegirangan melihat tingkahku barusan. Dia langsung menerimanya dan segera membacanya. Tapi aku rebut. “Kenapa? Katanya buat aku??”
“Bacanya nanti di rumah..ini tempat umum….” Bisikku di telinga Geb. Jujur, aku mulai lelah beracting seperti ini.
“hummmmhhhh…”dengus Geb memperlihatkan mimik kecewa yang dibuat-buat. “Oke deh.” Katanya membiarkanku memasukkan diari ke dalam tas. “Eh Ziii…” panggilnya setelah beberapa detik.
Aku menoleh padanya tepat saat dia berhasil mencium pipiku. “Makasih ya…” katanya setelah itu.
Ini yang membuatku terpuruk lagi. Aku harusnya tersenyum saat melihat mata Geb yang tulus, yang berbinar-binar dengan cinta tak terbatas. Geb yang dengan rela membiarkan aku bertemu orang yang masih aku simpan segenggam cintanya, dan betapa aku mengerti Geb sebenarnys mengerti itu. tapi aku malah membiarkan jiwa dalam diriku, Zi, membuka pintu pesawat ini lalu terjun bebas dan kembali ke kota yang ku tinggalkan untuk berteriak dan menyerukan namanya hingga suaraku habis.
“Iya.” Lirihku berpura-pura lagi. Aku tak apa. Aku baik-baik saja.
Sampai di rumah, Geb ku suruh pulang dan istirahat. Kami berencana masuk siang, tapi ayah melarang kami karena dia fikir kami lelah. Tante dan Mila sedang membuat kue kering sorenya saat aku membuka mata dari tidur siangku. Bukan tidur siang, tapi peniduran diri lebih tepatnya.
“Bau ya Mah?” ledek kakak tiriku saat aku masuk ke dapur. Berpura-pura tak melihatku.
Tante malah menanggapi serius karena dia belum menyadari adanya aku. “Hah? Kuenya jangan-jangan gosong?!!” kata tante panik sembari mengendus-endus.
“Hahahaha! Mamah…mamah….!” Mila terkekeh sambil memegangi perutnya yang pasti sakit karena saking kuatnya tertawa. “Baunya Zi nohh…!” tunjuk Mila.
Aku hanya ikut tertawa kecil. Rasa humorku masih belum bangkit, kurasa.
“huss..!” desist ante membelaku. “kamu nih!” nasihatnya pada Mila yang berjalan kea rah oven. “mau ikut bikin?” lalu dia bertanya padaku.
“Mah, kagak lihat apa? Zi mukanya kusut banget, galau lu ya?” seloroh Mila sambil mengeluarkan kue yang telah matang. Aku mendekatinya dan membantu memasukkan ke dalam toples. “Bukannya harusnya lu seneng, secara lu kan mau tunangan gityuuuu…”
“Emmm?” gumamku tak mengerti.
“Milaaa….” Tante sedikit mekebarkan matanya. Melarang mila sepertinya.
Seingatku itu hanya leluconan Geb saat makan malam waktu itu. tapi kenapa ekspresi Tante sepertinya membenarkan Mila? Apa aku pernah cerita?
“Ya elah Mah, biar aja kenapa siiih?” protes Mila. “Lu bukannya sama Geb yang udah sepakat?”
“sepakat apa Mil???” ulangku. Karena aku benar-benar tak mengerti.
“Zi?” tante melihatku heran. “Kamu enggak lagi bercanda juga kan?”
“bercanda? Mila, Tante…ada apa sih sebenernya?” kataku mulai muak dengan keadaan ini. aku bagai terambing-ambing.
“Zi…malam minggu kemarin, pak Nuel, sama istrinya datang kesini. Mereka ngajak Ayah kamu sama tante buat ngomongin pertunangan kalian. Ayah kamu fikir kalau kalian yang udah ngajuin, jadi ayah kamu sama tante langsung setuju. Toh kalian pacaran udah lama, bagus juga karena si Gabriel ternyata mau lebih serius. Tante juga rasa kalau dia orang yang tanggung jawab.” Tante mulai bercerita. Pak Nuel adalah ayah Geb. “Awalnya ayah kamu mau nelpon kamu, tapi tante larang. Tante ngerti kalau kalian di sana pasti harap-harap cemas kan??” tante Hilda mengedip-ngedipkan matanya.
Satu…
Andai setiap tepung putih itu bisa menghilang saat di tiup angin, aku mau jadi mereka saat ini. Andai gula itu memang benar-benar manis, lumuri saja seluruh ceritanya.
Dua…
Aku melihat semuanya hitam. Awalnya hanya cuplikan-cuplikan masa lalu yang di mix dengan seutas masa depan yang masih terlihat kabur dengan warna pudar dan tua. Lama-lama semua yang di sekitarku bergerak bebas dan melingkar-lingkar.
Tiga…
Jika aku masih tak tuli. Aku mendengar bunyi ‘buk!’ keras yang menghantam tanah.
Dave.
Percuma saja aku memelankan mobilku, karena sebentar lagi aku telah sampai rumah. Aku belum menemukan karangan yang tepat untuk diceritakan pada Fani nanti. Aku sejujurnya tak mau berbohong, tapi aku juga tak mengerti apa yang harus ku ceritakan? Haruskah ku ceritakan bagaimana kami bertemu dulu? Atau dari kami bertemu kemarin? Apa dari saat aku ke kafe dan menceritakan bahwa dulu juga Zi ke sana?
Tak mungkin. Aku tak mungkin punya kekuatan bercerita di depannya nanti. Ku putuskan untuk hanya menjawab setiap kali dia bertanya. Ya, aku hanya perlu menjawab kegundahannya.
“Enggak kerasa ya? Kita udah lewat tiga tahun.” Fani menyandarkan kepalanya di pundakku. Malam mulai terasa saat bintang-bintang itu berkerlap-kerlip di atas kami. Gazebo yang kami duduki sekarang juga mungkin bisa melihatnya. “bahkan kita udah kaya keluarga.” Senyumnya mengembang.
Aku tahu maksud Fani adalah menyindirku. Aku dan dia berniat menetukan kapan kami akan bertunangan pada orang tuaku dan orang tuanya ketika pulang kesini. Aku hanya membalas senyumnya. “rasi bintangnya keren ya?” kataku mengalihkan fikiran Fani.
Fani beringsut dan berbaring. Dia meletakkan kepalanya di pangkal kakiku. “Itu bentuk singa Dave.” Jelasnya. Mungkin di dalam fakultas sastra diajari tentang rasi bintang. Mungkin karena banyak penulis dan puitisi terlilhami benda-benda langit. “Bintang Leo.” Tambahnya.
Lagi-lagi dimulai huruf L. Lizzie si Leo. Aku ingin berterimakasih karena dengan baik hati Fani membuatku kembali pedih.
Bahkan dia muncul di langit yang jauh di sana! Sebegitu ingin tahukah kau bagaimana aku merasa kesunyian ini setelah menyadari aku sekarang tanpamu?!
“Dia gadis baik.” Fani tak menyebut namanya, namun aku faham siapa yang dia maksud. “Tadi aku senang sekali, bisa diberi kesempatan bertemu dengannya walau sekilas.”
“dia yang ngajak kamu kenalan?” tanyaku ringan.
“tidak.” Fani menggeleng. Membuat pahaku sedikit geli. “Aku lihat Zi memegang buku yang sama dengan yang buku yang Fani pernah baca di mobil Dave.” Tutur Fani memainkan kuku-kuku mungilnya. Malam ini dia menguncir rambutnya bagai ekor kuda. “Langsung Fani gemetar awalnya, tapi Fani harus berani. Fani dekati dia, terus Fani ajak ngobrol.”
Aku memanggut-manggut, membayangkan apa yang terjadi di antara mereka. Jadi Fani telah mengenalinya kalau dia Lizzie. “ngobrol banyak tadi?”
Fani tak mau lagi dialihkan. “Kita enggak ngobrolin Dave.” Katanya. “padahal pengen sekali Fani bisa bilang kalau aku kenal kamu, kenal Dave ke Zi. Tapi Zi kayaknya lagi enggak baik. Fani dipuji sama dia setelah dia tahu kalau Fani orang Bali, katanya Fani jago nari.”
Itulah dia. Selalu membuat orang nyaman, walau orang itu tak dikenalnya, pujiku pada Zi dalam hati. Kami hening untuk beberapa detik. Aku tahu kalau Fani masih gundah.
“Tadi mata kalian saling isi.” Kata Fani tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
“apa?” tanyaku tak mendengar Fani dengan jelas tadi.
“Kamu, sama Zi ada yang mengikat.” Tutur Fani. “Seperti saat aku membuat penonton tak dapat berkedip, aku membuat mata mereka tetap pada mataku. Seperti itu juga kalian.”
Seketika aku merasa kakiku kaku, Fani menangis. Aku berusaha mengusapnya, tapi Fani malah menutup matanya dengan kedua telapak tangan. “Fani enggak bisa berfikir sehat lagi Dave, bayangan Fani terus melihat kalau nanti Dave akan pergi. Kalau kalian akan kembali. Dan..” Fani terisak. “dan aku enggak bisa rela Dave.”
Aku serba salah dengan isakannya yang tersendat-sendat. “Faniiii….” Bisikku di telinganya lembut. Aku mencoba membuka matanya dan membiarkan tetesan air mata mengalir ke pipi lalu ke pangkal kakiku. “Kamu enggak akan aku tinggal…” ku ciumi pipinya dengan penuh perasaan. “Besok…” kataku terhenti saat melihat bibirnya yang basah. “besok aku akan ngomongin tentang pertunangan kita ke orang tua kita. Sebisa mungkin, lebih cepat.” Kataku membuat mulut Fani tersenyum. Melengkung indah sebelum akhirnya aku mengecupnya.

Lizzie.
“pagi Zi…”
Aku yakin itu suara Geb. Lama sekali aku bisa melihatnya dengan jelas. Geb berdiri dan membuka tirai jendela kamarku. “Kamu? Kok bisa di sini?”
“enggak ada pertanyaan lain apa?” cibirnya. “kamu kok romantos sekalos sih? Atau kamu kok baik banget sih?, itu kan lebih enak di denger.”
“Geb…” kataku mencoba duduk tapi tersendat karena ada yang menancap di punggung tanganku. "Infus?”
“nah, sekarang inget?” tanya Geb mendekatiku lalu mengecek infus yang masih menetes dalam kantungnya. “pinsan, bikin kue Mamah sama Kakak kamu enggak karuan.” Guyon Geb. “udah mau habis, aku ganti ya?” Geb melihat infusku.
Pinsan? Aku kembali pusing. Teringat tentang pertungan itu kembali. “enggak usah, cabut aja, aku udah enggak lemes lagi kok.” Elakku lalu melepas plaster yang menempel pada selang infus di tanganku. Geb tak mau membuatku marah, dia membantuku melepas dan mencabutnya dari kulitku. “pelan..pelan…” pintaku sedikit merintih.
“sekarang kamu mau mandi atau dimandiin?” tanya Geb dengan masih guyon.
“emang aku kucing apa, pake di mandiin.” Selorohku asal. “kamu keluar gih, aku mau buka baju.”
Geb mengerdipkan mata jahilnya.
“ke-lu-arrrr!!!!” teriakku membuat Geb terkekeh lalu pergi.
“abis pinsan energinya kembali booo…”
Setelah aku yakin aku telah benar-benar segar, aku keluar dari kamar dan turun ke bawah. Terlihat Geb yang sedang menyiapkan sebuah piring dengan makanan yang bisa dibilang over. “Sekarang waktunya makaaannnn…” seru Mila ketika aku telah di samping meja makan. “hoy Zi the pinsania. Kita udah laper nih, nunggu elu sampe usus lengket.”
Semuanya tertawa. Mila memang cocok jika ku jebloskan ke sekolah lawak.
Geb mempersilahkanku duduk di depan piring yang telah disiapkannya dengan makanan yang begitu banyak. Di meja makan aku bisa melihat ini bukan menu sarapan yang biasa. Ayah, Tante, Mila, dan Geb terlihat sumringah. Aku merasa ini hanya rekayasa. Pasti Geb yang mengatur ini semua.
Geb juga yang pasti menyusun semua pelipuran sedih ini. mereka semua menghiburku, aku yakin. Apa aku membebani mereka?
“ayo dimakan dong sayang.” Kata ayah ketika melihatku hanya diam. Ku lihat Mila sudah hampir setengah piring habis.
“enggak suka?” tanya Geb.
“bukan tante lho yang masak.” Sambung tante Hilda. “Geb sama Mila tuh yang ngotak-atik dapur dari subuh.”
“yeee,,” mila protes. “abis Geb memelas gitu minta dibantuin, gue sih males banget sebenernya, tapi gimana lagi.”
Aku tertegun. “Geb?” tanyaku. “Kamu subuh-subuh kesini??” tanyaku takjub.
“dari semalem malah Zi…” ayah yang menjawab.
Mataku hampir tak kuat lagi menatap Geb. Sungguh, Geb adalah orang yang penuh keistimewaan. Cintanya mampu menyulap segala yang aku fikir tak guna. Cintanya mampu menguras habis akalku. Ku lihat dirinya sejenak, Geb hanya tersenyum menampakkan gigi putihnya bagai iklan pasta gigi yang pernah kita buat bersama. Ini saja sudah membuatku kenyang. Terimakasih atas semuanya, terimakasih atas selama ini.
—o0o—
Aku mengotot tuk tetap pergi ke kantor. Walau semua orang—Geb, ayah, tante, Mila—melarangku. Aku bosan dengan kelemahanku sendiri. Dan akhirnya, setelah bersusah payah memohon, ayah mengizinkanku. Jika ayah mengizinkan, yang lainpun pasti patuh. Tapi dengan catatan, aku hanya ke kantor, bukan bekerja.
“sekarang kita mau ngapain coba?” tanyaku saat berada dalam ruang kerja Geb. Geb kini naik jabatan, jadi kepala bagian promosi iklan. Jadi dia punya ruang kerja yang lebih luas lagi dari sebelumnya dengan kenyamanan yang oke. Aku duduk di sofa hitam di dekat jendela.
“aku bilang juga apa.” Kata Geb membawa jus jeruk yang dibawakan OB barusan padaku. “kamu sih, bandel.”
“aku enggak enak Geb, aku kemarin udah enggak kerja, sekarang mau enggak masuk lagi? Ya kapan aku majunya coba?” kataku membela diri.
“oke,,,” Geb mengalah. “kamu menang.” Senyum Geb sembari bertepuk tangan. “oh iya Zi, kemarin kamu kenapa bisa pinsan?”
Belum sempat aku menjawab, Geb memotongku. “kamu masih mikirin dia ya…” kata Geb, dan itu sebuah pertanyaan. Aku kini tersudut. “apa kamu mau aku minta dia kesini?”
“Geb!” kataku menghentikan ide gilanya. “ini bukan karena dia!” aku mulai emosi. Berulang-ulang kali aku pernah mengatakan ini. “aku Cuma kecapekan, itu aja. Enggak ada yang perlu dicurigain Geb!”
Geb malah mengambil tanganku dan meletakkannya di dadanya. “aku minta maaf Sayang.” Lalu pelan dia menarikku dan mendekapku. “aku enggak akan bahas ini lagi.”
Aku tak boleh egois. Aku mencoba benar-benar terlihat kembali ceria. “Kamu udah baca puisi-puisinya?” tanyaku mengalihkan topik.
“aku belum bisa baca, semalem aku kan enggak tidur nungguin kabar kamu. Akhirnya aku ke rumah kamu dan nunggu kamu langsung di samping tempat tidur kamu.” Ceritanya dengan mata sembab. “tapi pasti aku nanti baca, aku kan fans berat kamu.”
Dan aku tertawa juga akhirnya.
—o0o—
Dave.
Dan semuanya telah jelas. Jalan yang nanti ku hadapi adalah bersama Fani menulis di lembaran baru.
Pertunangan kami akan dilaksanakan dua minggu lagi. Beberapa hari yang lalu orang tuaku ku dan orang tua Fani telah bertemu dan membicarakan ini. aku tak dapat mengelak rasa bahagia yang terpancar dari wajah Fani setelah mendengar ini. mungkin ini yang ia tunggu-tunggu. Keseriusanku padanya. Tapi karena dia wanita, dia hanya dapat menunggu aku yang bertindak.
Sepulang kerja aku mampir ke sebuah toko perhiasan. Sejak tadi siang aku tergiur untuk kesini, mungkin karena teringat sebuah cincin yang indah yang membuatku iri pada sang pemiliknya. Ku lihat berbagai macam cinci, kalung, gelang, serta aksesoris yang pasti membuat anggun jika dipakai wanita.
“Ini batu zamrud?” tanyaku ketika seorang pelayan toko menghampiriku dari balik etalasenya.
Pelayan itu mengambil cincin yang ku tunjuk. Lalu dia tersenyum. “Mas tahu tentang perhiasan dan batuan ya?” pujinya. Ternyata aku benar.
Tak perlu lama, aku pun pulang dan membawa cincin itu.
Setelah sampai di rumah, aku segera pergi mandi. Aku tak melihat Fani yang biasanya telah stand by di teras menungguku pulang kalau jam segini.
“Punya siapa ini?” tanya Fani tiba-tiba saat aku selesai mandi. Dia mengangkat sebuah kotak merah kecil dengan tangan kanannya. “Cincin Dave?”
Baru aku sadar, aku telah membeli cincin. Tapi yang membutku heran, aku tak tahu untuk apa dan siapa aku membelinya. Aku lupa mengeluarkannya dari saku celanaku yang langsung ku letakkan di tempat pakaian kotor.
“kelihatannya cewek yang pantas.” Kata Fani setelah membuka kotak itu lebar-lebar. Dia lalu memakainya tepat di jari manis kecilnya. “Cincin cewek pasti.” Lirihnya.
Ibuku keluar dari kamar dan mendapati kami sedang saling pandang. “Pasti buat kamu lah Fan.” Sambung ibu lalu melihat cincin batu zamrud itu lebih dekat. Fani tersenyum. “Bagus. Cocok di kamu Fan.” Puji ibu. pipi Fani makin merah merona.
Sesaat ada rasa untuk meronta dan menyangkal apa yang mereka katakan barusan. Tapi aku akhirnya berhasil mematikan itu dan tersenyum pada Fani dan ibu. “Iya Fan, itu buat kamu kok.” Lirihku lalu meninggalkan mereka.
Aku berjalan ke teras rumah dan melihat bapak sedang menikmati tehnya. Dia terlihat semakin tua saja. Aku duduk di sebelehnya, di sebuah kursi. Bapak hanya diam dan memandang kejauhan.
“Kamu udah yakin Dave?” tanya bapak setelah beberapa saat.
“ng..?” aku tak mengerti maksud bapak.
“Pertunangan kamu ini…” jawab bapak lalu mengambil tehnya dan menghirupnya. “jangan kamu jadiin mainan saja.”
“oh…” aku mengerti. “Iya pak. Saya udah yakin kok.” Anggukku. Kembali aku mulai cemas dengan otakku. Apa yang telah terjadi padaku? Aku membeli sebuah cincin yang kini melingkar di jari Fani, tapi hatiku berkata itu bukan untuk Fani.
“Bapak itu bisa tahu apa yang terjadi dalam diri kamu Dave.” Bapak tersenyum samar. Hari semakin gelap. “Kamu enggak perlu terus-terusan sembunyi.” Lanjutnya meletakkan gelas teh yang isinya habis. “kamu harus udah mantap dengan keputusan kamu, jangan terombang-ambing. Kasihan kalau ada yang harus sakit hati nantinya jika kamu berhenti di tengah jalan.” Senyuman bapak memudar. Dia berdiri dan membawa gelasnya yang telah kosong ke dalam rumah.
Bahkan yang keras pun bisa mengerti yang lunak. Aku sendiri nantinya yang akan sengsara. Aku ingin menepi dari gelombang ini, tapi yang ku buat aku malah melompat-lompat. Membuat mereka kembali beriak dan menenggelamkanku.
—o0o—
Lizzie.
Geb dari tadi menghiasi wajahnya dengan senyuman. Aku yakin ini bukan karena gaji, karena ini hampir pertengahan bulan. Dari tadi siang Geb juga bersemangat sekali, dia terlihat ingin cepat-cepat pulang jika pekerjaan selesai.
“nanti malam kamu di rumah kan?” tanya Geb saat kami sampai di depan rumahku. Aku mengangguk, masih belum menutup pintu mobil. “aku nanti ke rumah kamu, boleh?”
Aku terkekeh pelan. “iya.” Jawabku singkat. “dateng aja sesuka kamu, asal jangan dateng abis jam dua belas malem…”
“ummm?” Geb bingung. “kenapa emang?”
“aku berubah jadi Cinderella nanti, hehehe…” aku menutup pintu mobil. Ku lihat Geb pun tertawa. “ya udah, pulang, trus mandi sana!” kataku berlagak mengusir. Geb memberikan hormat padaku bagai tentara perang.
“oke bos!” lalu mobilnya pergi dan menjauh.
Aku bergabung dengan Mila dan yang lain yang sedang berkumpul di ruang keluarga. Mereka rupanya sedang menonton acara komedi yang biasa tayang jam segini. Aku duduk di samping ayahku. Lalu tante menyodorkan toples berisi kacang padaku. Aku mengambil sedikit dan melanjutkan menonton sambil memakannya.
“assalammualaikum!” salam seseorang yang ternyata Geb.
Geb datang dengan rapi, rambutnya juga tampaknya telah di beri gel yang membuatnya semakin tampan. Geb memakan blazer abu-abu dengan kaus biru di dalamnya.
“hey.” Jawabku.
“yah…nih orang lagi” ledek Mila pura-pura tak suka. Lalu Geb terkekeh.
Ayah, tante, Mila, dan Geb saling berpandangan.
“Om, saya boleh ajak Zi-nya keluar?” tanya Geb pada ayahku. Dengan cepat ayah mengangguk saat tante Hilda tersenyum juga.
“jangan lama-lama lu Geb, entar khilaf.” Cerocos Mila.
“iyeee…” kata Geb. “dasar kakak bawel!” ledek Geb balik.
“tua-an juga elu kali….” Dumel Mila. “masih calon kakak!”
“Zi…” kata tante mennyadarkanku kalau aku sedang melamun. “kamu enggak ganti baju?”
Aku tersenyum datar. Aku saja belum katakan ‘mau ikut’ kan? Tapi aku tak tega menciutkan hati Geb yang terlihat sedang berbunga-bunga. Ku pandang diriku sendiri, aku mengenakan kaus abu-abu pendek dengan gambar mickey mouse dan celana training yang tiga perempat padaku. Aku lalu bangkit dari sofa, pergi ke kamar dan mengambil sweaterku yang selalu ku pakai saat dingin.
“gini enggak apa-apa kan?” adalah apa yang ku tanyakan saat turun dan menemui Geb dan yang lain. Sesamar-samarnya mereka tersenyum, aku merasa ditertawakan kecuali Geb yang memandangku teduh.
—o0o—
Aku sebenarnya sengaja memakai pakaian ‘semberono’ seperti ini. aku ingin menghindari candle light dinner lagi yang begitu menguras perasaanku yang terpaksa. Aku juga takut dia membawaku ke rumahnya seperti beberapa minggu yang lalu. Tak bisa ku lupakan bagaimana ibu Geb yang memanjaku, adiknya yang begitu ingin aku cepat-cepat tinggal—di rumah mereka. Dan sekarang, yang terpenting aku telah terhindar dari suasana romantisnya lagi.
Tak lama, lamunanku seketika pecah saat Geb menekan klakson kuat-kuat. Aku langsung terhenyak dan mendapati diriku kejang dan ketakutan. Apa mungkin kami tengah dalam kecelakaan? Tapi saat aku melihat Geb, dia malah tertawa kuat dan menggelikan. Rupanya dia mengajakku ke gelandang samudra. Tanpa ku sadari ini adalah tempat yang mirip dengan tempat dimana Geb katakana cintanya. Walau jaraknya tentu lebih dekat.
Geb mengajakku berjalan-jalan di bibir pantai. Mengajakku bertelanjang kaki dan menikmati angin malam. Aku ternyata salah, aku malah memakai kostum yang tentunya pas untuk kesini. Sambil menikmati indahnya suasana malam di pantai, kami berbincang-bincang tentang kenangan-kenangan kami. Terkadang Geb menyindirku yang suka tidur pada jam kerja, kadang juga dia meledekku yang terlihat seperti mayat hidup saat baru kenal dengannya. Dan yang paling membuatku tertawa adalah bagaimana aku membuatnya jatuh cinta.
“kamu itu unik!” kata Geb. “bedaaaaa benget dilihat!” lanjutnya sedikit meledek dengan memicingkan sebelah matanya. “itu yang bikin aku klepek-klepek.” Dia memegangi dadanya sebagai ilustrasi. Aku tahu itu bukan alas an yang tepat, sebenarnya dia tersentuh dan kasihan padaku yang sedang kacau waktu itu. aku tahu kalau Geb adalah orang yang berperasaan lembut, yang membuatnya mencintaiku karena tak tega melihatku yang kosong dalam sebuah pelarian.
Sudah kuputuskan kalau aku tak akan mengenang masa lalu. Jadi walau kalimat yang dikatakan Geb barusan adalah kalimat yang sering ku dengarkan, aku tak akan merubah ekspresi wajahku. Sinar rembulan membuat kami terlihat ceria malam mini. Mungkin untuk Geb, aku mungkin nanti.
“aneh?” tanyaku seperti apa yang ku tanyakan—dulu.
“enggak Zi, aneh sama unik tuh sepupuan. Kalau aneh tuh menonjol ke kejanggalan yang dianggap negatif, tapi kalau unik mah aneh yang positif.” Geb menggerutu. Aku tak protes lagi. Sudah cukup.
Kami lalu berjalan sambil bergandengan tangan. Sesekali mengayun-ayunkannya saat sunyi menyerang. Geb ku rasa sedang sakit, tangannya begitu dingin. Ingin aku dapat benar-benar membuat Geb bahagia, seperti dia yang tak pernah henti-hentinya membuatku tersenyum di saat apapun. Segelintir orang terlihat sedang berjalan di pinggiran juga. aku memandang Geb yang mulai menghentikan langkahnya dan membuatku berhenti juga.
Geb berlutut di depanku. Matanya terbuka lebar dan terlihat sungguh-sungguh. “Lizzie..mau kah kamu menikah denganku???” tanya Geb menggenggam kedua tanganku. “aku minta maaf karena aku baru bisa bilang ini sekarang, waktu kita pulang jenguk mamah kamu, orang tua kita sebenarnya udah ketemu.” Jelas Geb. Aku tak terlalu terkejut, ini pernah ku fikirkan sebelumnya. Aku tak kaget saat Geb mengatakan kalimat keduanya, karena tante Hilda dan Mila telah menceritakannya padaku sebelum aku jatuh pinsan.
Aku tak berkutik. Hanya saja aku masih berdiri di hadapan Geb yang masih berlutut.
Geb mengeratkan genggamannya. “Dan mereka setuju kalau kita bisa melewatkan pertunangan. Kita bisa langsung menikah.”
Satu…
Wahai angin, mulailah terbang dan bawa aku.
Dua…
Wahai air, katakan pada dewa kalian kalau aku butuh dia sekarang. Sebentar saja.
Tiga…
Wahai tanah dan pasir yang ku injak, tetaplah bantu aku berdiri sebelum aku dapat terbang. Aku mohon.

“Zi…aku tahu ini pasti mengejutkan bagi kamu. Tapi enggak ada cara lain lagi Zi, ini adalah jalan tertakhir yang bisa aku kasih ke kamu buat benar-benar pulih. Membuka lembaran baru dengan aku, memastikan kamu enggak akan pergi dan ninggalin aku. Aku adalah laki-laki yang sejujurnya enggak bisa terlihat tenang saat ketakutan kehilangan kamu Zi. Aku udah minta izin sama Mamah dan Ayah kamu, orang tua kita juga udah setuju. Jadi, sekarang tinggal kamunya Zi, aku benar-benar berharap kamu terima ini.”
“Geb, aku mohon…” air mataku menitik. Aku tak mengusapnya, biarlah bergabung dengan air laut. “aku minta waktu, aku janji aku akan jawab ini setelah benar-benar siap. Kamu mau kan tunggu aku?” kataku.
Geb kini berdiri dan serta merta memelukku. “tentu Sayang.” Kata Geb di telingaku. “tentu…”bisiknya.
—o0o—
Semenjak malam itu, aku makin tak banyak bicara. Sepulang dari kantor, aku langsung pergi ke kamar dan tidur. Kesehatanku semakin terasa memburuk. Aku kadang-kadang mengelak untuk makan pada jam istirahat saat di kantor, aku juga tak mau bangun saat tante Hilda dan Mila mengajakku makan malam. Aku terlalu lemah! Bahkan yang memilukan adalah bagaimana sikapku pada Geb di kantor. Aku bagai tak mengacuhkannya. Tapi bukan Geb jika hatinya tak tegar. Dia dengan tanpa menyerah terus menerus memberikan perhatiannya. Dia tak bosan-bosannya membawakan makanan untukku yang memilih tidur di tempat kerja saat jam makan.
“Zi, kamu kenapa sih…?” tanya Geb saat aku meletakkan makanan yang dia beli untukku di laci. “apa ini karena malam itu? apa aku salah?”
“Geb.” Kataku menghentikan pertanyaan-pertanyaannya yang menghujam. “aku enggak kenapa-kenapa. Mengenai malam itu, aku masih belum bisa jawab Geb.”
Geb tertunduk. Dia hanya menghembuskan nafas dalam-dalam. Lalu terlihat matanya aneh melihatku. “Mata kamu kenapa jadi kaya panda gitu? Muka kamu juga pucet banget Zi!”
Aku menyipitkan mataku dan menggeleng. “Ayahku pulang enggak ya?” tanyaku mengalihkan matanya yang melihati mataku. “aku mau ke ruangannya sebentar ya?” lalu aku berdiri dan pergi.
Sebelum ke ruangan ayah, aku telah ke toilet dan mencuci mataku. Saat aku mengetuk pintu, ayah ternyata hendak keluar dari ruangan.
“Zi? Kenapa?” tanya ayah mengurungkan niatnya dan kembali masuk dan mengajakku duduk di sofa.
“yah…” kataku padanya lalu ku sandarkan kepalaku di pundaknya. Ayah rupanya terlihat kikuk, aku tak biasanya bersikap begini. Sudah lama sekali aku tak berlaku manja. “aku boleh minta cuti tambahan?” rengekku.
Dan ayah seketika tertawa. “cuti??” tanyanya. “jadi inget waktu kamu masih SD, kamu minta libur karena bosen sekolah.” Katanya masih terkekeh. “emang kenapa? Kamu bosen kerja disini? Atau mentang-mentang Geb yang nanti kerja, gitu?”
Semua kata-kata ayah barusan mampu membuatku tertawa. Bagaimana nanti jika aku dan Geb benar-benar tinggal satu atap? Apa kami akan bekerja satu kantor juga? aku tak bisa membayangkan bagaimana nanti namaku diganti jadi Bu Gabriel. “enggak gitu Yah…” elakku sambil menggeleng pelan.
“Zi…” kata ayahku. “sebenernya ayah ajak kamu kesini karena ayah pengen ngejaga kamu, kamu mau kerja kek, kamu mau nganggur kek.” Ayah berhenti dan mengelus pundakku, “itu enggak masalah selama kamu seneng, you are my daughter that can’t changed by anyone. Sekarang kamu nanya cuti, enggak perlu izin. Ayah pasti ngizinin.”
Aku lalu duduk tegap dan melihatnya. Aku langsung memeluknya sambari berterima kasih.
—o0o—
Aku mulai membenci diriku sendiri. Membenci semua kelemahanku. Membenci diriku yang selalu tak dapat tegar, membenci aku yang tak dapat terlihat masa bodoh terhadap perasaanku.
Setelah mendapat izin dari ayah, aku segera pulang. Aku hanya membawa beberapa pakaian ke sana, aku langsung terbang. Pulang. Awalnya aku berfikir tuk memberitahu Geb kalau aku ingin pulang, tapi aku tahu dia tak akan mengizinkanku pergi, palagi sendirian. Alih-alih memberitahu Geb, aku malah menonaktifkan ponselku sebelum ke bandara.
Hujan lagi. Entah apa langit punya mata, setiap aku panas, hujan selalu turun. Aku tak mengerti jika Tuhan juga masih memandangku yang penuh keluh ini. aku bosan dengan keadaan yang terus menerus seperti ini. mengapa aku selalu yang terpuruk? Mengapa dengan mudahnya aku dibuat kacau?
“Mah….!” Teriakku sambil mengetuk pintu. “Mah….ini Zi mah….buka pintunya…” aku mulai menggigil kedinginan. Taksi yang mengangkutku dari bandara ku hentikan di depan gang rumah, jadi aku masih sedikit basah.
“Zi..?” terdengar seperti masih tak percaya. lalu terdengar nada ‘krek’ keras, mungkin pintu ini telah terlalu tua.
“mah..” kataku lemas. Kedinginan. “aku boleh numpang di sini kan? Jadi parasit lagi di sini, boleh ya? Enggak lama kok. Aku Cuma lagi bingung, aku butuh tempat buat ngerenung.”
“kamu itu ngomong apa sih?! Kamu bebas lah, ini rumah kamu juga!” ibu melihatku aneh. “kamu sendirian??” tanyanya yang ku balas dengan anggukkan cepat. “sekarang kamu masuk dulu, terus kamu cerita.”
Aku ingin menangis saat kata-kata itu sama persis dengan kata saat aku pulang kehujanan setelah membaca surat darinya. Lalu ku tarik nafas sejenak sebelum akhirnya aku pergi tidur. Aku memaksa mataku tuk terpejam. Semuanya harus kembali normal. Aku harus temukan jawabannya secepat juga.
Dave.
Semakin dekat, semakin terasa menakutkan. Seminggu lagi, semuanya tak dapat dihentikan. Aku adalah lelaki yang harus bertanggung jawab pada apa yang telah ku pilih. Aku harus cepat berubah dewasa. Membuang kata-kata ‘cinta sejati’ dalam otakku. Aku terkadang takut, jika nanti aku malah melukainya jika dia tahu kalau aku masih ragu.
Saat masuk ke dalam mobil sepulang kerja. aku berdiam diri sejenak tuk mengumpulkan konsentrasiku. Ku lihat ponselku yang tertinggal di kursi depan. Aku segera mengambilnya. Ada dua belas panggilan tak terjawab. Ibu Zi?
“sore Bu…” sapaku saat Ibu Zi mengangkatnya.
Aku kini mengerti mengapa ibu Zi meneleponku sejak tadi siang. Aku langsung faham apa yang sedang terjadi setelah mendengarkan cerita ibu Zi. Aku tahu bagaimana jalur ceritanya. Begitu terguncang mendengar cerita singkat tentangnya. Ibu Zi juga sepertinya begitu.
Aku menelpon rumah tapi tak ada yang mengangkat. Jadi ku telpon ponsel Fani.
“kenapa Dave?” tanya Fani setelah mengangkat telponku.
“umm.. fan, aku kayaknya pulang telat. Bilang bapak sama ibu ya?” pintaku.
“kenapa?”
“aku ada urusan sebentar sama temen, oke? Aku tutup dulu ya…” kataku setelah menekan tombol merah di layar ponsel. Tanpa tunggu lama, aku segera melesat ke sana. Ke rumah Zi.
Zi telah kesini lagi dari dua hari yang lalu katanya. Dan dia sedang bungkam. Menurut ibu Zi itu karena dia telah dilamar oleh lelaki yang ku temui bersamanya di bandara minggu lalu. Tak salah namanya adalah Geb. Lalu, apa yang membuat Zi bungkam? Bukankah dia adalah kekasihnya yang nyata sekarang? Harusnya Zi bahagia, tentu saja ini hal yang indah, bukan?
Ternyata ibu Zi telah menungguku di beranda rumah sembari cemas jika aku tak datang. Matanya sembab. “dia kayaknya enggak mau diganggu, tapi kamu coba aja. Ibu minta tolong ya? Bujuk dia Dave.”
Aku mengangguk pasti. Berharap orang ini tak gundah lagi. “dia di teras belakang.” Kata ibu Zi saat aku masuk ke dalam rumah.
Hatiku langsung meleleh saat melihat Zi yang sedang duduk sambil memeluk lututnya di teras. Tanpa melihat matanya, aku tahu dia sedang kacau. Punggungnya pasti lelah karena sejak tadi ku lihat dia tak bergerak. Sama sekali.
“Kamu enggak bisa terus-terusan gini Zi…” kataku masih berdiri terpaku di ambang pintu belakang. Lututku melemas ketika melihatnya membalik tubuh. Mayat hidup. Matanya seperti orang yang terkena penyakit parah, warna hitam lebam di sekeliling mata. “jangan buat semua orang khawatir.”
Lizzie yang awalnya terkejut langsung tersenyum dingin, memasang tatapan yang menakutkan. Sama seperti saat kami pernah bertengkar di masa sekolah dulu. Tatapan yang mampu membuat orang ketakutan tanpa harus mengenalnya. Zi berdiri dan mendekatiku yang bersandar di kusen. Kami berdua sekarang sama-sama di ambang pintu dengan mata saling bertatap. “ngapain kamu di sini??”
“itu bukan yang hal yang penting sekarang, aku salah dengan kedatanganku, aku tahu.” Kataku membuat Zi membuang mukanya. “tapi kamu harus tahu Zi, kamu itu kacau.” Lalu ku ambil jari-jemarinya. Zi tak mau awalnya, namun dia tak dapat mengalahkanku juga. jadi sekarang aku menggenggam tangannya. “Kamu cinta aku?”
Hening. Zi malah menangis tersedu-sedu. Dia hampir meledak, dia mencoba menarik tangannya dari genggamanku. “aku juga cinta kamu Zi.” Kataku makin mengencangkan genggaman. Ku tarik dan ku dekap dia. Zi memelukku erat. Mungkin inilah mengapa dia bungkam, mungkin telah lama dia ingin menangis. Mungkin dia hanya ingin menangis di depanku. Dan ini lah waktunya. “tapi kita udah punya cinta yang baru, yang harusnya kita jaga Zi…”
“Dave…” zi tak kuasa dan terisak-isak di dalam dekapanku. “apa yang harus aku lakukan?! Aku enggak bisa, aku enggak bisa!” katanya menggeleng-geleng. Air mataku menetes juga akhirnya. Tak ku usap, membuat pipi kami basah.
“denger Zi…” kataku menenangkannya. “aku dan kamu memang sama-sama terjebak terlalu jauh. tapi aku lihat Geb, dia orang yang bisa diandalkan, jika ada orang yang harus aku pilih, hanya dia orang yang bisa aku percaya buat kamu Zi. Dia terlihat tulus. Dia pasti punya cinta yang lebih dari pada cintaku. Geb enggak boleh kamu sakiti lagi Zi, percaya sama aku. Dengan Geb, kamu akan tahu arti cinta sebenernya”
“kamu bener.” Akhirnya zi berhenti menangis. Air matanya tak lagi keluar. “Fani enggak layak disakiti.” Lirihnya. “dial ah orang yang aku relakan buat miliki kamu Dave, dia adalah orang yang berhak dapet cinta kamu Dave, aku berterimakasih karena kamu pilih dia. Dengan gitu aku bisa tenang tentang kamu nantinya, dia gadis yang baik. Dalam beberapa menit aku udah bisa kenal dia.” Zi benar-benar tersenyum sekarang.
“jadi ini yang belum selesai.” Kataku. “ternyata setelah mengatakan semua ini, aku bisa lega.” Kataku lagi. Zi juga mengangguk. Lalu kami saling mundur setelah dekapan kami lepas. “kita sekarang udah bisa saling lepas, kamu janji untuk enggak pernah sedih lagi kan?”
Zi tak menjawab. “ini udah mau malam. Kamu mending pulang Dave, terimakasih untuk menit-menit yang kamu kasih barusan. Makasih udah meluk aku untuk menangis. Pulanglah, temui Fani dan katakan kamu cinta dia.” Lalu dengan pelan dia menyentuh pipiku lembut.
Aku sekarang benar-benar yakin. Zi telah membaik dan benar-benar pulih. Ternyata ini yang harusnya ku lakukan sejak dulu. Ini lah cara untuk menghabiskan sisa-sisa cinta kami yang kebur tak jelas.
Aku mulai berjalan dan meninggalkan Zi yang masih berdiri di ambang pintu. Ku hentikan sejenak dan melihatnya sekali lagi. Zi melambaikan tangan dengan senyuman indah. Aku benar-benar lega.

Lizzie.
Esoknya aku segera menelepon Geb. Aku bisa mendengar Geb yang lesu awalnya, tapi setelah aku katakan kalau aku akan pulang dan langsung menjawab pertanyaannya di malam itu, Geb langsung terdengar meledak saking girangnya. Dia pasti telah menebak kalau aku mau menikah dengannya. Ya aku mau. Dalam waktu cepat atau lambat.
Aku benar-benar pulih. Bisa ku gambarkan rona di pipiku setiap membayangkan senyuman Geb akan mengangkatku ke udara sambil berputar-putar karena akhirnya dia mendaptkan aku yang seutuhnya. Aku ingin cepat-cepat pulang saja.
“emangnya kamu pulang kapan?” tanya Geb dari pesawat telepon.
“lusa mungkin.” Kataku cepat. “kamu lagi apa?”
“nih baca-baca puisi kamu di lembaran-lembaran akhir.” Seketika Geb mendengus. Ada resah yang ku rasa. “udah dulu ya Zi, aku ngantuk nih. Umm, sampai ketemu nanti ya…” setelah itu Geb mematikan telepon.
Aku tak ingin merusak suasana hatiku yang sedang merekah kembali.
Beberapa hari setelah pulang, aku hanya berdiam diri di rumah. Aku masih belum ingin ke kantor dan memanjakan diriku dengan pergi ke tempat spa bersama Mila. Dia awalnya tak percaya aku mau ikut waktu di ajak bolos kerja. kami menghabiskan hari pergi keliling kota ini.
“eh Zi, si Geb emang enggak punya nomor nyokap lu?” tanya Mila saat kami di escalator di sebuah mall. “waktu itu dia nelpon ke rumah, nanya bokap, dia minta nomor nyokap lu.” Lanjutnya saat kami tiba di lantai dua.
“enggak tahu juga, waktu dia ikut gue balik, dia lupa minta paling.” Jawabku tanpa curiga. Mungkin saat itu nomorku sedang tak dapat dihubungi sehingga Geb menelpon ibuku tuk menanyakan kabarku.
Mila mengangguk-angguk. Lalu dia menunjuk salah satu pakaian yang tergantung. “keren tuh!” lalu dia menarikku ke sana.
Dave.
Aku kini benar-benar siap. Tak ada lagi keraguan dalam diriku, aku kini telah bisa melihat Fani tanpa bayang-bayang Zi lagi. Sabtu pagi aku berniat membangunkannya, tapi yang ku lihat Fani telah segar dan rapi. Aku sedikit bingung karena lagi-lagi Fani mengeluarkan kopernya. Dan anehnya ibu membantunya.
Aku melihati mereka tanpa kata. Apa aku telah membuat kesalahan, fikirku.
“kan kalian mau tunangan disana Dave, ya ada baiknya dia pulang dulu. Mempersiapkan semuanya.” Senyum ibu merekah. Fani ikut tersenyum membuatku lega.
“kenapa enggak pulang bareng kita Fan? Kan aku cutinya mulai selasa.” Tanyaku saat Fani dan ibu selesai dengan koper Fani yang dibawa ke teras.
“kamu ya yang antar aku ke bandara?” tanya Fani membuatku lesu. Dia hebat sekali dalam mengalihkan perhatian.
“tentu.” Jawabku. “aku mandi dulu ya.” Lalu ku tinggal mereka.
—o0o—
Fani hanya diam. Itu yang membuatku merasa ada yang tak beres, sekalinya aku ajak dia bicara bahkan bercanda, Fani hanya tersenyum. Apa dia masih ragu denganku? Bukankah aku telah ceritakan kalau kini aku benar-benar siap.
“Dave, di sini aja.” Kata Fani setelah aku mengeluarkan kopetnya dari bagasi mobil. Kami masih di tempat parkir.
“apanya?” tanyaku bingung. Tempat parkir terlihat sepi. “ayo aku anter masuk, aku mau pastiin calon tunanganku selamat masuk ke pesawat.” Ku gandeng tangannya.
“enggak perlu Dave.” Kata Fani tak mau melangkah. “kita pisah di sini aja Dave!” pinta Fani.
Aku spontan keget dengan sikap Fani barusan. “oke, aku antar kamu sampe sini aja deh, aku ngalah.” Aku melepas dan memberikan koper padanya.
“selamat tinggal Dave.” Kata Fani lagi sambil melepas cincin batu zamrud yang pernah ku beli.
Kini aku benar-benar emosi. Ini tak lucu bagiku. Tapi ku lihat mata Fani merah, berkaca-kaca. “ada apa sebenernya Fan? Kita kan ketemu beberapa hari lagi Sayang…tinggal beberapa hari lagi kita resmi tunangan.” Aku berusaha keras masih bersabar.
“enggak Dave…” dan kini Fani menangis. Dia lalu mengambil tanganku dan mengepalkan tanganku saat menyerahkan cincin itu. “aku ingin batalin itu…”
“Fan?!!”
“aku minta maaf Dave karena aku lancang angkat telepon di ponsel kamu. Aku tahu waktu itu kamu bohong, kamu bilang pulang malem padahal kamu ketemu Zi kan? Dia lagi pulang dan lagi kacau kan?” Fani makin menderu.
Kini aku tak bisa mengatakan apa-apa. Aku ingat waktu itu aku lupa membawa ponselku tepat sehari aku menemui Zi di rumahnya. Tapi siapa yang member tahu Fani tentang itu.
“si Geb yang bilang kalau Zi pulang.” Tanpa ditanya Fani telah berhasil menjawab apa yang ingin ku tanyakan. Dari mana Geb tahu nomorku? Lizzie atau ibunya? “beberapa hari ini aku enggak bisa tenang Dave. Aku pasti jahat kalau aku enggak mau peduli tentang kamu dan Zi, aku tahu aku lah tembok yang membatasi kalian.”
“Fan…aku minta maaf Fan, aku belum sempet cerita.” Ku pegang kedua pundaknya. “waktu itu kita Cuma nyelesain masalah kita berdua. Kita udah sepakat untuk saling ngelepas dan ngelupain…”
“bukan itu masalahnya Dave.” Fani menggeleng pelan dan susah payah tersenyum. “aku enggak mau jadi batasan buat kalian, aku sadar, aku enggak boleh egois.” Katanya lagi sembari mengusap air mata. “cinta kamu itu Zi, Dave. Kamu harus kejar dia, aku juga sadar kalau itu pasti bukan buat aku.” Fani menunjuk cincin yang aku pegang. “pergilah Dave, aku minta maaf jika ini terlalu terlambat buat sadar, maaf Dave kalau ini bikin kamu marah, tapi aku enggak bisa.”
Ku peluk Fani sejenak sebelum akhirnya aku pulang membawa cinta kami yang telah usai.
Lizzie.
Sesekali aku melihat sekelilingku. Hari mulai senja. Aku dan Geb telah sepakat tuk bertemu di pantai. Aku sedikit gugup untuk menyatakan aku mau. Tapi, bagaimana caranya aku mengatakannya padanya ya? Apa aku harus berpura-pura murung lalu tiba-tiba tersenyum riang sambil mengatakan iya? Ah, lebih baik dengan cara dewasa. Aku langsung memberikan senyuman dan mencium keningnya sambil berbisik ‘ya’.
Geb tak lama kemudian datang. Mendekatiku yang tengah duduk di ayunan karet buatan orang-orang sini, mungkin. Ku lihat dia membawa diariku dengan tangan kirinya, mungkin dia baru saja membacanya. Geb tak mengganti pakaiannya sepertinya. Dia pasti baru pulang kerja. aku lalu menyambutnya sembari tersenyum.
“maaf ya lama.” Katanya berlutut di depanku.
Aku hampir saja mengatakan apa yang telah ku rencanakan, tapi Geb malah memberikan diari padaku. “ng?”
“aku rasa ini bukan punyaku, ummm…bukan. Ini bukan untuk aku.” Katanya tiba-tiba memandang ke tanah. Lalu dia melihatku sejenak.
“Geb, aku sekarang mau jawab pertanyaan kamu. Ya Geb, aku mau.” Kataku bulat-bulat.
Geb tersenyum kering. “enggak Zi…” dia menggeleng. “aku rasa itu salah.” Geb mengambil jari-jariku. Lalu dia melepas cincin permata dari jariku. “maaf Zi, mataku baru terbuka sekarang.” Geb akhirnya berhasil melepas cincinnya dan memasukkannya ke dalam saku kemeja. “ternyata Dave lah yang pantas buat kamu, aku baru sadar kalau ini lah yang harus aku lakukan.”
“kamu kenapa sih? Aku sekarang udah bener-bener tulus sama kamu Geb, enggak ada ragu sedikitpun…” elakku mengenggam pundaknya.
Geb tersenyum samar. “aku lihat diari kamu, wahai yang berdewa air, sungguh cintaku tak ada tara, naluriku terlahir ketika ada di sisimu, jangan kau tenggelamkan cintaku. Tapi bawalah dia bersamamu ke dasar hatimu, setelah itu kita kan berpisah pada sebuah titik, di mana aku hanya hidup, tapi tanpa cinta, karena cintaku hanya kau, aku akan kosong tanpamu.” Geb membacakan puisi yang pernah ku tulis saat Dave dan aku sedang piknik waktu masa sekolah. “aku tahu maksud kamu dalam puisi itu aquarius, yang lambangnya dewa air, dan aku Taurus Zi. Aku tanya Fani, dia bilang kalau Dave memang aquarius. Aku yakin kamu sungguh-sungguh dalam puisi itu, TANPANYA KAMU KOSONG”
Aku merasakan kepahitan mendalam jika aku menjadi Geb. Aku menggeleng pelan, menahannya tuk tak berdiri.
“jadi, aku minta maaf sekali lagi Zi, aku enggak mau jadi penghalang buat kalian. Masa depan kamu enggak boleh kamu ambil asal aja, dan tentu Dave lah yang harusnya dapat cinta kamu lagi Zi…” Geb kini berdiri di hadapanku. “kejar dia Zi, di sanalah kamu seharusnya, cinta kamu itu dia.”
Ku peluk Geb sejenak sebelum akhirnya aku pulang membawa cinta kami yang telah usai.

Dave.
aku memutuskan tuk langsung ke sana pagi ini. ibu dan bapak telah tahu semalam tentang pembatalan rencana ini yang terkesan mendadak. Mereka tak dapat berkata apa-apa saat aku bilang kalau Fani lah yang meminta. Orang tua Fani juga pasti telah mengerti. Sekarang aku tak punya teman hati lagi.
Aku langsung berniat duduk di bawah pohon itu. lalu ku lihat alang-alang yang mulai menjulang di padang ini. aku terpaksa dengan susah payah melewati alang-alang yang tingginya mencapai dua meter ini tuk sampai ke sana dengan jalan kaki, ku parkir mobilku tak terlalu jauh. Dan akhirnya usahaku tak sia-sia. Aku langsung membuka ransel yang berisi kain tipis dan langsung rebahan di atasnya. Melihat langit dari balik dedaunan pohon yang ternyata pohon ara ini.
“udah ketebak, pasti kamu…” kata seseorang mengagetkanku sembari berkacak pinggang. “geser dong….” Senyumnya sambil rebahan di sisiku. Lalu aku bergeser. Zi tidur di sebelahku dengan kepala kami yang menghadap berlawanan arah. Kaki ku terbujur ke arah selatan dan dia ke utara.
“Zi…?” panggilku sembari tersenyum.
“aku enggak mau ngomong, kapan-kapan aja aku certain kenapa aku bisa ke sini.” Protes zi memejamkan matanya.
“emang siapa yang mau tanya, he?” ledekku. “ini enggak perlu ngomong dan kata-kata kok.” Aku membalik tubuhku dan tengkurap. Kepalaku sekarang ku angkat di atas kepala Zi yang masih terpejam.
Zi membuka matanya dengan cepat, tetapi aku telah mengecupnya.
“hehehehe…” zi terkekeh setelah bibirnya terlihat basah. Senyuman yang dulu pernah ku lihat kini muncul lagi di wajah Zi. Dia kembali hidup.
“oh iya.” Kataku bangkit. Lalu aku mengambil ransel yang kami jadi kan bantalan. Zi pun duduk tegak menghadapku. ku ambil tangannya.
“ng?” Zi bingung saat aku melingkarkan cincin batu zamrud itu ke jari manisnya yang telah—kosong. Lalu dia mengerti dan menunduk menahan air matanya. Cincin batu zamrud itu makin indah saat terkena sinar mentari. Ternyata kamu lah yang membuat aku membeli ini Zi.
“Zi…” lirihku.
Zi mengangkat kedua alisnya. “apa lagi?”
“menikahlah denganku.”
Air mata Zi menetes juga, kebahagiaan terpancar darinya membuatku begitu tenang. Zi tak menjawabku, tapi dia malah mendekat dan memelukku. Aku begitu damai. Akhirnya kami kembali dalam sebuah cinta dan cerita.
Terimakasih Tuhan, kau pertemukan hati kami kembali.
Lizzie.
“jadi Papah sama Mamah udah kenal dari waktu sekolah??” tanya Akila tak percaya saat aku selesai menceritakan kisah kami yang ku modif hingga seperti dongeng sebelum tidur.
Aku kembali tinggal di kota ini dan bekerja menjadi guru privat bahasa inggris sekaligus pemilik sevenbakery bersama sahabat-sahabat sekolahku dulu. Ayahku mengizinkanku pulang dan membangunkan aku butik kue, sebagian modal darinya dan Dave.
Aku menunda menikah dengan Dave beberapa tahun kemudian setelah Dave memberikan cincin batu zamrud yang masih melingkar di jari manisku. Kami fikir ada baiknya jika kami konsentrasi dulu pada karier kami masing-masing, lalu setelah semuanya telah siap dan matang, kami pun membulatkan tekad tuk melangkah lebih jauh. Kahidupan kami semakin terasa harmonis dan sejahtera setelah kami dikaruniai oleh kehadiran anak dalam keluarga kecil kami. Akila, anak perempuan kami setelah setahun pernikahan. Aku dan Dave memberinya nama Akila Puteri Candra. Usianya sekarang lima tahun lebih, dan masih sekolah di TK dekat kantor tempat Dave berdinas.
“iya Sayang….” Jawab Dave lalu mengatur selimut Akila lebih tinggi dan nyaman.
“jadi kamu enggak akan beramtem lagi sama Rama kan??” tanyaku. Rama adalah teman sekelas Akila yang menurut Akila nakal dan jail. “nanti siapa tahu kalau Akila sudah besar, ketemu sama Rama lagi. Iya kan?”
Akila mengangguk. Aku mengecup pipinya bersamaan dengan Dave. “sekarang kamu tidur ya? Besok kan sekolah, inget apa yang di bilang Mamah barusan, oke??” Dave memberikan kelingkingnya pada Akila sebagai symbol perjanjian.
“Oki doki…” jawab Akila setelah itu tersenyum pada Dave, lalu dia mencoba memejamkan matanya tuk tidur. Dave mengelus kepala Akila agar lebih cepat tidur. “Mah…!” tiba-tiba mata Akila terbuka lagi, membuat kami berdua terkejut.
“kenapa?” tanyaku menatapnya.
“hari minggu nanti kita piknik ke sana lagi ya???” pinta Akila dengan mata berbinar-binar.
Aku dan Dave saling berpandangan. Kami mengerti maksud Akila adalah tempat dimana aku dan Dave sering bertemu dan menghabiskan senja. Dimana cinta kami bersemi indah.
“Ya Mah…?” ulang Akila sambil sedikit menyipitkan matanya. Aku mengangakat bahu sambil memberi isyarat pada Akila untuk bertanya pada Dave. “Ya Pah….??”
Kali ini Dave meletakkan telunjuknya sambil mengetuk-ngetukkannya pada mulutnya, menggambarkan dia sedang berfikir dan memutuskan. “gimana ya?” aku yakin Dave pasti setuju.
“emang kenapa kamu mau piknik kesana? Enggak ke taman ria aja? Kan disana lebih asyik, lebih rame?” tanyaku ingin tahu alas an Akila.
“Mamah kan sama Papah waktu masih kecil sering kesana, jadi aku juga mau ikutan kaya Papah sama Mamah, pasti ada yang bikin Mamah sama Papah jadi sekeluarga kaya gini, dan pastinya gara-gara tempat pohon ara tumbuh itu...” Tutur Akila. Jawaban yang tak ku duga yang bisa dilontarkan oleh anak umur lima tahun. Aku dan Dave memang pernah membawa anak kami kesana waktu itu, tapi belum sempat kami ceritakan kisah yang tersimpan oleh saksi-saksi bisu di sana. Area itu adalah lahan untuk perumahan nantinya. Tapi kami berdoa, semoga walau apa pun yang terjadi pada tempat itu, tempat itu tak akan pernah hilang. Karena di sana aku dan Dave bertemu, berpisah, dan bersatu kembali. Dan yang akhirnya membuat anak buah cinta kami juga jatuh cinta.
Dave menggeleng takjub. “Kalau gitu, kita piknik disana!!” seru Dave membuat Akila tersenyum lebar, bagai bulan sabit yang pernah kulihat di wajah seseorang dulu.
“aku boleh ajak Rama sama keluarganya?” pinta Akila lagi. “biar kami bisa baikkan?”
“tentu Akila sayang….”
Horeee!!
Kami keluar dari kamar Akila setelah Dave mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur Akila.
“pinter kan anak kita?” tanyaku menyombongkan diri. “siapa dulu ibunya?!”
Dave terkekeh. Kami masuk ke kamar dan bersiap tidur. “dia itu kaya kamu ya? Udah mulai berani berantem sama cowok padahal masih TK” katanya meledekku. “tapi otak cerdas dan tanggapnya kaya aku, bapaknya.” Lanjutnya.
“Huuuu!” semprotku lalu kugelitiki Dave.
“ampuuunnn….” Dave kegelian dan cekikikan. Kami lalu tertegun saling memandang. Inilah hal yang pernah aku impikan, hidup bersama orang yang aku cintai dan mencintaiku.
Dave sekarang mencubit kedua pipiku.
“Aw!!” pekikku. “sakit taukkk!”
“Oh…” Dave mengangguk. “jadi ini bukan mimpi ya…”
“dasar kurang ajar!” kataku pura-pura marah.
“hehehe…eh Zi…” panggil Dave.
Aku melihatnya. Dave menyibak rambut yang menutupi mataku.
We are kissing again.

Tak ada cinta yang tak berpemilik,
Semua cinta kan kembali ke tempatnya..

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar